recent

daftar isi

DAFTAR ISI

recent post berjalan

Pengembangan diri

>> Sabtu, 22 Oktober 2011


Membangun Kepercayaan Baru dalam Hubungan

“Seiring dengan berjalannya waktu… Masalah pun berlalu dengan sendirinya”

Pernah dengar kalimat itu?
Apakah memang benar?
Apa Anda percaya dengan kalimat tersebut???

Ehmm… secara pribadi saya kok tidak mempercayainya ya.
Maksud saya ya memang ada beberapa masalah yang tidak bisa diselesaikan saat itu juga dan membutuhkan waktu (sedikit) lebih lama untuk penyelesaiannya daripada masalah yang lain.

Tetapi kan jelas-jelas bukan berarti kita hanya perlu duduk ongkang-ongkang kaki dan membiarkan alam semesta ini yang membereskan semua.

Masalah harus dihadapi dan diselesaikan.
Dimana tentunya pertama-tama kita harus memilki keberanian terlebih dahulu untuk mau berhadapan langsung dengan masalah yang ada.

Ini adalah hukum yang berlaku di manapun juga.
Kita tidak akan pernah mendapatkan apapun kecuali kita berusaha untuk mendapatkannya.

Bagaimana kita dapat mengharapkan memiliki hidup yang damai dan tentram jika kita terus-menerus menumpukkan masalah di dalam ‘lemari’ kehidupan kita.
Cepat atau lambat, ‘lemari’ tersebut akan meledak karena kepenuhan toh?
Berapa banyak menurut Anda, ‘lemari’ tersebut mampu menampung masalah-masalah kita??

Saya berharap Anda tidak berpikir bahwa ‘lemari’ kita itu seperti kantong Doraemon yang dengan huebattnya mampu untuk menampung apa saja dan sampai kapan saja tanpa batas sepanjang hidup.
Ehmm… Kalau iya, berarti saya akan stop disini dan berdoa yang terbaik untuk Anda.

Tetapi kalau tidak dan Anda mulai berpikir bahwa ‘lemari’ Anda sudah hampir meledak, memuntahkan masalah-masalah yang tak tersentuh selama ini, maka mungkin sudah saatnya Anda menghadapi kenyataan yang sebenarnya.
Kenyataan bahwa Anda butuh untuk segera membersihkan ‘lemari’ Anda.

Saya percaya, kecenderungan untuk mendiamkan dan menumpuk masalah dalam ‘lemari’ Anda itulah yang seringkali menjadi kericuhan dalam sebuah hubungan. Entah itu hubungan pertemanan, hubungan keluarga atau hubungan dengan kekasih.

Individu dalam sebuah hubungan memiliki kecenderungan untuk membiarkan masalah berlalu dengan sendirinya.
Saya bahkan harus mengakui bahwa terkadang saya pun memiliki kecenderungan tersebut.

Perbedaannya mungkin terletak pada tingkat kecenderungan yang dimiliki.
Beberapa memiliki tingkat kecenderungan yang lebih rendah dan banyak berusaha untuk secepatnya menghadapi masalah-masalah yang tertunda.
Beberapa yang lain mungkin berada pada kondisi penyangkalan terus-menerus dan merasa tidak ada yang perlu untuk dihadapi.

Sejujurnya saya tidak bisa menyalahkan mereka yang berada dalam penyangkalan tersebut.
Dari semenjak lahir, kita selalu diajarkan betapa orang lain melengkapi kita.
Dari semenjak lahir, kita selalu diajarkan bahwa kita tidak sempurna dan selalu membutuhkan orang lain untuk hidup.
Memang di satu sisi hal tersebut tentunya benar.
Kita memang membutuhkan orang lain karena kita adalah makhluk sosial dan membutuhkan orang lain dalam proses belajar kita sepanjang hidup.

Namun sayangnya ajaran yang dibombardir setiap saat ini dapat pula menimbulkan 2 jenis individu.

Yang pertama adalah individu yang menjadi takut sekali untuk kehilangan seseorang (atau setiap orang) dalam hidupnya karena nantinya akan membuat ia menjadi tidak sempurna. Mereka berusaha setiap detik, setiap saat, untuk menyenangkan orang lain untuk dapat merasa sempurna meskipun mungkin hal yang dilakukan menyakiti diri sendiri. Mereka takut untuk menghadapi masalah yang ada karena mereka yakin dengan menghadapi masalah tersebut justru akan membuat hubungan yang terjalin menjadi hancur berantakan.
“Betul kan … Saya memang bodoh. Biarkan sajalah. Tidak perlu untuk membahasnya. Nanti suatu saat juga mereda sendiri masalah ini”

Atau mungkin yang kedua yang terus menyangkal membutuhkan orang lain karena ketakutannya akan ketidaksempurnaan. Mereka berusaha mati-matian untuk membuktikan betapa sempurnanya mereka sehingga tanpa orang lain pun mereka dapat hidup. Mereka selalu berhasil menggali sisi buruk dari orang lain dan selalu juara juga dalam menyalahkan orang lain ketika ada masalah yang terjadi. Setiap ada masalah, itu pasti karena orang lain dan bukan karena mereka.
“duh… dia bodoh sekali sih… dia keras kepala sekali sih… dia ini… dia itu…. Saya tidak peduli lagi! Saya bahagia untuk dapat hidup dalam dunia saya sendiri. Saya tidak butuh orang lain karena saya terlalu sempurna untuk mereka. Dunia tidak akan pernah dapat mengerti saya”

Jika kita dapat menelaah lebih lanjut, kedua bentuk reaksi tersebut sebenarnya mengarah pada emosi yang sama bukan, yaitu ketakutan.

Ini memang tampak seperti situasi yang menyedihkan sekali.
Namun BUKAN sesuatu yang tidak bisa untuk dirubah.
Seperti takdir yang ditulis di atas batu.
Kita dapat merubah kondisi tersebut jika kita memang berniat keras untuk merubahnya.
Bahkan batu pun sebenarnya dapat dipecah menjadi serpihan-serpihan kecil.

Kita dapat mulai melakukan perubahan dengan cara mulai belajar merasakan cinta dan bukan ketakutan.

Selama ini, kita sudah banyak (kenyang malah mungkin) merasakan ketakutan.
Apakah Anda tidak berpikir sudah saatnya untuk berhenti?
Apakah Anda sudah bosan dengan keadaan tersebut?

Jika iya, bagaimana jika mulai membuka lembaran hidup baru?
Mulai belajar merasakan bagaimana rasanya cinta.
Bagaimana rasanya belajar mengikhlaskan dan mencintai diri sendiri dengan segala ketidaksempurnaan yang mungkin ada.

Yup! Dengan bangga saya menyatakan bahwa kita memang tidak sempurna.
Saya tidak ingin menjadi sempurna.
Saya bukanlah manusia jika saya sempurna.
Saya selalu menyatakan bahwa saya sempurna dengan segala ketidaksempurnaan yang mungkin ada dalam diri saya.
Saya bahkan banyak belajar dari ketidaksempurnaan saya.
Saya belajar untuk berusaha, berjuang untuk merubah kondisi jika memang dapat saya rubah. Dan belajar untuk mengikhlaskan, mencintai kondisi yang memang tidak bisa saya rubah lagi.

Saya mencintai setiap aspek ketidaksempurnaan yang saya miliki sama seperti saya mencintai setiap jengkal kesempurnaan saya.
Kenapa?
Karena keduanya malah membuat saya merasa sempurna.

Kita semua tahu bahwa koin memiliki dua sisi.
Kita menerima kenyataan tersebut.

Jadi mengapa kita tidak juga menerima kenyataan bahwa kita pun memiliki dua sisi yang saling melengkapi dalam hidup ini?

Lagipula, ayolah…. Beritahu saya bagaimana caranya kita dapat membenahi masalah-masalah yang ada diluar diri kita, jika kita belum juga mampu membenahi masalah yang ada didalam diri kita sendiri.

Pemikiran yang cukup menyentak bukan?

Oleh karenanya, saya sekarang mendorong Anda untuk mulai belajar menghadapi masalah yang ada.
Saya undang Anda untuk mulai mencintai diri Anda dan berhadapan langsung dengan ‘setan-setan’ Anda.
Mulai dari hal-hal kecil dalam diri Anda, perlahan demi perlahan, lalu mulai mencoba untuk menghadapi yang ada di luar Anda.

Mari bersama-sama kita coba untuk membangun ajaran dan kepercayaan baru dalam hidup ini…
“Saya sempurna dengan segala ketidaksempurnaan saya dan saya mencintai keseluruhan paket diri saya” 

Narasumber
desiren89@gmail.com

Read more...

Pengembangan diri


Sebuah Arti Pertemanan

Tadi malam ketika saya sedang berleyeh-leyeh, beristirahat setelah melakukan rutinitas olah raga sore saya, seorang teman mengirimkan pesan singkat melalui telepon genggam.
Dia berkata (dan saya kutip tepat seperti yang ia katakan) : “I don’t agree with ‘friends come and go’. They COME when u use ur heart,they GO when u use ur Ego”.
Kalimat pendek tersebut kemudian berbuntut pada percakapan di telepon dan juga rantaian pesan singkat dengan sang teman sampai dengan esok paginya.
Kalimat pendek itu adalah kalimat yang cukup menggugah nurani saya dan merangsang pikiran untuk menganalisanya.
Kenapa?
Karena saya adalah individu yang mempercayai bahwa di kehidupan yang fana ini tidak ada suatu hal yang permanen.
Semua pasti berubah.
Dengan kata lain, ya tentunya, akan tiba masa dimana teman-teman yang selama ini hadir dan datang dalam hidup kita akan pergi kok!
Tetapi kemudian seiring dengan rentetan diskusi tadi dengan sang teman, tiba-tiba saya sampai pada satu titik kesimpulan yang berbeda.
Segala hal sudah pasti berubah dalam kehidupan kita ini.
Pada satu masa akan ada teman yang datang dan ketika kedua belah pihak merasakan kecocokan maka hubungan tersebut pun dapat berlanjut.
Kita kemudian menjalin pertemanan dengannya, menghabiskan waktu bersama, tertawa dan bahkan menangis bersama, melakukan beragam segudang aktifitas bersama tanpa menyadari waktu kebersamaan tersebut tetap berjalan serta berlalu.
Tidak menyadari waktu yang terus berjalan tersebut sampai kemudian tiba pada satu titik dimana konflik mungkin saja muncul.
Perjalanan yang paling mulus pun pastilah memiliki lubang, sekecil atau sebesar apapun juga.
Ketika lubang itu hadir dalam hubungan pertemanan yang terjalin, argumen pun mulai bermunculan.
Masing-masing pihak berkutat akan keyakinan bahwa dirinya lah yang paling benar.
Terkadang bahkan argumen itu bahkan tidak ada dan keduanya memilih untuk diam seribu bahasa tanpa merasa perlu untuk mengucapkan satu patah kata pun.
Ketika itu yang terjadi lalu apa yang akan dilakukan??
Saya percaya dari dua pilihan saja yang tersedia disini, inilah saat dimana kita dapat menggunakan hak kita untuk memilih secara bebas pilihan yang tersedia.
Kita dapat bertindak berdasarkan hati kita.
Atau kita dapat lebih memilih untuk bertindak mengikuti Ego kita.
Pada titik inilah, pertemanan yang terjalin selama itu akan tiba pada masa-masa ujian.
Akankah pertemanan tersebut dapat dipertahankan atau akankah ia usai begitu saja.
Pertemanan itu sendiri sudah tentu melibatkan paling sedikit dua pihak.
Dan ketika sudah ada lebih dari dua pihak yang terlibat berarti lebih banyak pula pikiran, perasaan serta perilaku yang berbeda-beda yang terlibat.
Saya tentunya tidak dapat menuntut pihak lain untuk benar-benar memiliki pikiran, perasaan dan tindak tanduk yang sama dengan saya.
Berdasarkan hal itulah maka saya tidak terlalu setuju dengan kalimat pertama teman saya :
Buat saya teman memang pasti akan datang dan pergi.
Namun saya setuju sekali dengan kalimat keduanya :
Ketika saya mampu untuk mendengarkan kata hati saya pertemanan yang terjalin dapat tetap dipertahankan, sedangkan ketika saya berkutat dengan Ego saya maka pertemanan tersebut dapat tiba pada titik akhir.
HANYA SAJA, ini bukanlah kondisi yang sudah pasti!
Saya bisa saja sudah lebih banyak menggunakan hati saya dan mencoba mengatasi kondisi yang ada sebijak mungkin, tetapi tetap saja sang teman memutuskan untuk beranjak pergi.
Saya bisa pula ngoyo menggunakan Ego saya tapi sang teman dengan setia tetap berada di samping saya.
Hal itu bergantung pada pilihan mereka dan pilihan mereka semata toh.
Sehingga saya sampai pada kesimpulan bahwa dalam konflik yang muncul, serta dalam usaha untuk mempertahakan jalinan pertemanan yang ada, selama saya sudah yakin bahwa saya telah melakukan setiap usaha sebaik mungkin secara bijak mengikuti kata hati yang ada, maka apapun yang kemudian menjadi pilihan teman saya dan segala tindakan yang dilakukannya sama sekali bukan urusan ataupun kuasa saya.
Dia dapat saja beranjak pergi.
Dia juga dapat saja tetap tinggal.
Semua hal tersebut benar-benar murni merupakan pilihannya & pilihannya semata.
Saya hanya dapat memastikan bahwa saya telah berbuat semaksimal mungkin (maksimal berdasarkan penilaian saya tentunya, karena kondisi maksimal bagi setiap orang memiliki arti yang sangat subyektif).
Lagi pula terkadang waktu untuk bersama-sama sudah berakhir.
Setiap pihak yang selama ini terlibat bersama sudah tiba pada sebuah persimpangan dan masing-masing pihak harus mengambil jalur yang berbeda.
Ketika kita enggan untuk saling melepaskan, kita malah akan terhambat dan berkutat terus-menerus di persimpangan tersebut yang menyebabkan kita tidak bisa lagi meneruskan perjalanan kita untuk terus belajar berkembang menjadi individu yang lebih baik dalam hidup ini.
Jadi sekali lagi, saya berpikir jika memang pertemanan yang saya jalin selama ini mengalami ujian, saya hanya dapat memastikan bahwa saya akan dan telah melakukan semaksimal mungkin yang bisa saya lakukan.
Setelah itu, dengan ikhlas, saya menyerahkan hasil akhirnya kepada Yang Kuasa.
Saya dengan senang hati bersedia menyerahkan keputusan akhir kepada-Nya selama saya tahu bahwa saya telah berbuat semaksimal mungkin.
Jika memang jalinan tersebut masih dapat dipertahankan, saya bersyukur.
Jika memang jalinan tersebut harus terputus dan kami memilih jalan yang berbeda, saya pun bersyukur.
Saya toh tetap akan menyimpan dan mensyukuri setiap momen yang telah kami lalui bersama karena saya yakin momen apapun itu yang telah kami lalui bersama pastilah memberikan pelajaran tersendiri bagi diri kami masing-masing.
Pada titik dimana saya harus melepaskan kelekatan yang ada, maka dengan keikhlasan kelekatan itu pun saya lepaskan.
Tanpa penyesalan, namun diiringi dengan emosi yang tepat.
Pertemanan memang suatu hal yang menjadi bumbu sedap dalam kehidupan sosial kita.
Ketika bumbu tersebut sudah tidak cocok lagi dengan masakan yang akan kita buat, dan bahkan setelah beragam percobaan usaha maksimal tetap tidak cocok, mungkin memang sudah saatnya kita mengganti bumbu tersebut.
Kecuali jika kita ingin menghasilkan masakan dengan rasa yang aneh di lidah ini dan hampir tidak mungkin untuk dinikmati.
Benar-benar sebuah pesan singkat pendek yang kemudian menghasilkan proses berpikir yang menyenangkan.
Proses berpikir yang mungkin sedang saya butuhkan saat ini.
Terima kasih untuk sang teman yang telah berbagi proses berpikir ini dengan saya…

Narasumber
desiren89@gmail.com

Read more...

Pengembangan diri


Kepemimpinan dalam pengambilan keputusan

Jika Anda seorang leader yang aktif berkomunikasi, tentunya Anda sering mengambil keputusan dari mulai hal-hal yang sederhana sampai pada yang berdampak terhadap banyak kepentingan. 

Tergantung dari situasi yang Anda hadapi, ada tiga gaya pengambilan keputusan. Tiap gaya mempunyai karakter tersendiri yang ditentukan oleh keadaan dan keterlibatan orang-orang didalamnya.

Yang pertama, memutuskan sendiri. Dalam hal ini Anda, sebagai leader, mengambil keputusan sendiri dan kemudian mengkomunikasikan keputusan Anda pada orang-orang di tim Anda. Gaya ini efektif saat Anda mempunyai informasi cukup dan pengetahuan yang diperlukan. Keputusan Anda akan diterima baik oleh tim karena waktunya pun terbatas.

Kedua, konsultatif. Menggunakan pendekatan ini, Anda berkonsultasi dengan anggota tim yang lain dalam mengumpulkan informasi untuk mendapatkan kepastian. Konsultasi ini bisa dilakukan dalam suasana pertemuan one-on-one atau dalam sesi meeting. Begitu informasi yang diperlukan terkumpul, Anda membuat keputusan dan mengkomunikasikannya pada orang lain.

Ketiga, konsensus atau musyawarah untuk mufakat. Pendekatan ini melibatkan Anda dan anggota tim yang lain untuk mencapai kesepakatan dalam pengambilan keputusan. Semua terlibat aktif untuk menyuarakan pendapatnya. Keputusan yang diambil merupakan hasil mufakat bersama yang diterima oleh semua pihak dengan memuaskan. Konsensus tidak serta merta memerlukan persetujuan semua anggota, tapi paling tidak memenuhi kuorum yang disyaratkan.

Pendekatan apapun yang Anda ambil memerlukan seni berkomunikasi yang jelas dan terarah. Gunakan kualitas bahasa, suara, dan sikap tubuh yang benar agar pengambilan keputusan terlihat meyakinkan dan diterima semua pihak.

Narasumber
desiren89@gmail.com

Read more...

Pengembangan diri


Langkah Cerdas untuk Sukses dan Bahagia

Tidak ada yang meragukan kalau Hermawan adalah seorang pengusaha sukses di Jakarta. Ia memiliki beberapa bidang usaha yang ia kelola bersama mitra bisnisnya. Namun ia merasakan ada sesuatu yang kurang dalam hidupnya. Komunikasi dengan istri dan anaknya sangat terbatas karena hampir setiap hari ia bekerja.
Sementara Sandra, seorang lulusan universitas terkenal di luar negeri, justru bingung menentukan pilihan karirnya. Selama ini ia kuliah karena mengikuti keinginan orang tuanya untuk menjadi financial planner. Namun dalam hati kecilnya ia merasa tidak tertarik untuk bekerja di bidang keuangan. Melukis adalah passion yang ia miliki dalam hidup. Ia gelisah diantara dua pilihan: membahagiakan orang tuanya atau mengikuti nuraninya untuk mengekspresikan bakatnya.
Memiliki karir yang sukses tentunya dambaan setiap orang. Bukan hanya uang yang kita peroleh, tetapi juga status di mata masyarakat. Namun pertanyaannya adalah: “Apakah karir sukses menjamin hidup bahagia?”. Apabila Anda bahagia di tempat kerja dan di rumah tentunya Anda salah satu orang yang paling beruntung di dunia. Sebaliknya, apabila tidak ada keseimbangan antara karir dan keluarga maka barangkali Anda merasa ada yang kurang dalam hidup ini.
Tujuan Hidup
Kalau kita melihat hidup sebagai anugerah maka kita akan merawatnya dengan sepenuh hati. Kehadiran Anda di dunia ini semata-mata untuk menumbuhkan hidup, bukan untuk menghabiskan hidup. Terlepas dari apa pekerjaan Anda atau berapa banyak uang yang Anda miliki, Anda selalu memiliki kesempatan untuk menjadikan hidup Anda menjadi lebih bermakna.
Tujuan hidup membuat Anda bergairah dan mempunyai semangat untuk berkarya terlepas dari rutinitas yang Anda jalani setiap hari. Keyakinan terhadap tujuan ini mempermudah Anda untuk merancang hidup yang selaras dengan:
  • Kepribadian Anda
  • Bakat dan kemampuan yang Anda miliki
  • Kepuasan yang ingin Anda capai
  • Nilai Anda dimata orang lain
Tujuan hidup bukanlah sesuatu yang abstrak. Anda bisa membagi tujuan hidup ini dalam beberapa aspek kegiatan yang berkaitan satu dengan yang lain sehingga Anda bisa memberi fokus pada apa yang ingin Anda capai. Aspek kegiatan yang dimaksud bisa meliputi: karir, keluarga, kesehatan, hobi, agama atau spiritual, dan  pengembangan diri. Tentukan apa yang Anda inginkan dari masing-masing aspek ini. Kemudian Anda menjadi lebih cerdas dalam merancang dan menjalani hidup Anda.
Tujuan Karir
Menentukan tujuan karir merupakan awal dari kebahagiaan bekerja. Untuk itu Anda perlu mendefinisikan alasan Anda bekerja dan apa yang Anda inginkan dari karir Anda. Pertanyaan-pertanyaan dibawah ini barangkali bermanfaat dalam penyusunan tujuan karir:
  1. Apa alasan Anda memilih satu jenis pekerjaan? Apakah itu latar belakang pendidikan, bakat, minat, atau keinginan orang tua.
  2. Apa yang Anda inginkan dari karir Anda? Apakah itu uang, jabatan, wewenang, atau aktualisasi diri.
  3. Apa yang menjadi prioritas sebuah pekerjaan? Apakah itu gaji yang besar, lokasi yang nyaman, atau waktu yang fleksibel.
  4. Berapa banyak waktu yang Anda ingin gunakan untuk bekerja? Apakah Anda ingin punya waktu berlibur? Bagaimana pengaturan waktu dengan keluarga dan teman-teman?
Dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan diatas Anda menjadi tahu motivasi Anda bekerja. Tujuan pun menjadi lebih jelas dan Anda bisa mengukur seberapa besar kebahagiaan yang akan Anda peroleh dari aspek kehidupan karir Anda.
Penghargaan Diri
Sebagai makhluk ciptaan Tuhan masing-masing orang memiliki keunikan tersendiri. Apa yang kita miliki belum tentu dimiliki oleh orang lain, demikian pula sebaliknya. Menghargai diri sendiri merupakan tindakan bijaksana untuk menyadari bahwa diri kita sudah merupakan pribadi yang utuh seperti apa adanya sekarang. Keterbatasan yang kita miliki justru bisa menjadi sumber inspirasi untuk mengembangkan diri.

Hidup bahagia dan sukses berkarir tidak lepas dari penghargaan terhadap siapa diri Anda dan apa yang sudah Anda lakukan dalam hidup ini.
Tidaklah berlebihan untuk mengatakan bahwa diri Anda merupakan orang yang paling penting dalam hidup Anda. Ini bukan anggapan ego yang sempit. Tetapi sebaliknya, diri Anda merupakan sumber kebahagiaan bagi diri Anda sendiri.
Anda menjadi semakin kreatif dalam merancang hidup dengan bertambahnya kesadaran terhadap keunikan dan potensi yang Anda miliki. Anda adalah pelukis dan lukisan itu sendiri. Keyakinan terhadap hal ini memberikan energi, fokus dan kepercayaan diri. Terlepas dari kondisi apapun yang Anda alami saat ini, Anda selalu memiliki kesempatan untuk mengembangkan hidup Anda sesuai dengan tujuan yang ingin Anda capai. Sekarang.

Narasumber
desiren89@gmail.com

Read more...

Pengembangan diri


Apakah Anda Takut Sukses atau Takut Gagal

Pernah ada yang bertanya, "Apakah takut sukses itu benar-benar ada?". Jangan-jangan cuma alasan takut gagal saja. Tapi sebelumnya kita ingin bertanya: "apa sih definisi sukses?". Kalau yg terbayang: punya mobil mewah, rumah besar, karir hebat...mmmm. ..barangkali kurang tepat. Saya lebih suka sukses dikaitkan dengan "I'm living my passion, I LOVE what I do,  I jump out of bed in the morning and can't wait to start my day, I am sharing my gifts with others...etc. "
Tapi hati-hati juga dengan kalimat manis diatas karena kita bisa terjebak di comfort zone dan tidak sadar kalau kita punya potensi. Ada satu kata yang sering dilupakan: "STRETCH". We want our success to evolve - to represent more of what we want to become. Untuk itu kita ingin stretch our zone. Dengan stretch we then make plans and take actions.
Takut gagal = gagal karena takut?
Katanya lebih banyak orang yg takut gagal daripada takut mati. Woow..kenapa ya? Kegagalan biasanya dikaitkan dengan ketidakmampuan seseorang memenuhi harapannya. Entah itu karir, bisnis, akademik atau relationship. Struktur masyarakat modern diciptakan dari konsep kompetisi. Survival for the fittest. Untuk survive, kamu harus berhasil. Kalau tidak kamu gagal dan mati. Begitulah kasarnya.
Orang yang takut gagal belum tentu orang bodoh. Namun ada mekanisme "self-sabotaging" yang ada dalam dirinya. Biasanya ini berkaitan dengan keinginan dia untuk tampil perfect. Menjadi idol yang dikagumi banyak orang. Sayangnya ia justru menjadi terbebani dengan standar perfection yang berlebihan.
Darimana asalnya?
Secara psikologis, orang yang takut sukses dan takut gagal memiliki isu sama di "willpower". Mungkin kedengarannya aneh, orang yang takut sukses willpower-nya kecil. Ia cenderung stagnant dan tidak men-challenge dirinya untuk melakukan hal-hal baru. Orang yang takut gagal justru willpower-nya besar. Tapi sayangnya ia menyalahgunakan willpower itu dengan men-sabotase dirinya sendiri. Ia bisa menyusun rencana untuk sebuah pekerjaan yang luar biasa, tapi tidak melakukan action apapun dan tiba2 perhatiannya beralih ke kegiatan yang lain.
Sekarang kita lihat belief atau pandangan apa saja yang membuat willpower tidak bisa teraktualisasikan dengan optimal.
Beliefs orang yang takut gagal
"Saya harus sempurna"
"Saya harus jadi nomor satu"
"Saya harus berhasil supaya orang-orang mengagumi saya"
"Kegagalan adalah akhir segalanya"
"Saya akan dihukum kalau saya gagal"
"Saya harus menjaga citra diri"
"Pandangan orang tentang saya harus selalu baik"
Beliefs orang yang takut sukses
"Kalau saya berubah nanti saya jadi orang lain"
"Saya menghindari tanggung jawab"
"Saya suka menunda pekerjaan"
"Saya merasa kurang berarti"
"Tidak mungkin!" , "Masa sih bisa?"
"Saya tidak tahu bagaimana melakukannya"
"Saya takut ketidakpastiaan"
Kalau kita telusuri lebih dalam, takut sukses dan takut gagal biasanya timbul karena adanya emotional atau sexual abuse di masa kecil. Core beliefnya adalah feeling unwanted. Sayangnya orang tua yang semestinya berperan positif dalam perkembangan si anak justru tanpa sadar melakukan abuse sehingga ketika beranjak dewasa si anak menjadi pribadi yang takut. Emosi si ibu pada saat mengandung tentunya juga membentuk karakter awal si anak. Lingkungan, termasuk teman2, juga berperan dalam pembangunan kejiwaan si anak. Environment affects gen.
Ciri-ciri di tubuh
Abuse ini bisa diamati dengan mudah di tubuh kita. Tubuh sebelah kiri menyimpan emotional abuse. Beberapa orang yang saya temui mengeluh tubuh sebelah kirinya pegal, lemah dan gampang sakit. Bisa ditebak, setelah ditelusuri mereka menyimpan memori emotional abuse pada saat kecil.
Tubuh sebelah kanan menyimpan sexual abuse. Gejalanya hampir mirip dengan emotional abuse. Terasa lemah, tapi juga bisa kaku dan terasa berat.
Kabar baiknya, kita bisa keluar dari kondisi terbatas ini asal punya willpower yang kuat. Terapi menfasilitasi perubahan, sementara diri sendirilah yang menjalankan perubahan itu. Willpower ini katanya menunggu untuk dibangkitkan. Bukan besok atau lusa tapi seperti orang bijak bilang, "Kalau tidak sekarang kapan lagi?"

Narasumber
desiren89@gmail.com

Read more...

Pengembangan diri


Sederhana, tapi tak mudah.


Sukses tercapai oleh sebuah pola sederhana.  Siapapun yang bisa menjalankan pola ini, maka sukses jadi niscaya.  Siapa yang cepat menjalankan polanya, suksesnya pun diraih cepat.  Kondisi awal, memang berpengaruh, tapi tidak lebih menentukan dari proses menjalankan polanya.   Orang miskin dan orang kaya lebih cepat mana meraih sukses?  Bila hanya menghitung kondisi awal, maka orang kaya jawabannya.  Tapi penentunya bukan kondisi awal, tapi proses menjalankan polanya. Orang miskin yang lebih cepat menjalankan pola sukses dari orang kaya, akan meraih sukses lebih cepat pula.
Nah, bagaimana pola sukses itu?  Ada 5 tahap yang membentuk pola sukses, yaitu:
<!--[if !supportLists]-->1.       <!--[endif]-->Keyakinan Diri yang Positif
Segalanya berawal dari sini.  Ini citra diri anda.  Self image.  Ini berkaitan dengan bagaimana anda meyakini diri anda sendiri?  Apakah anda manusia yang dilahirkan untuk sukses atau untuk gagal?  Anda orang baik atau orang buruk?  Anda ganteng / cantik atau buruk rupa?  Anda layak kaya atau layak miskin?  Anda merasa sebagai orang kelas bawah, kelas menengah atau kelas atas?  Ketika berhadapan dengan orang lain, anda merasa diri anda di atas, sejajar atau di atasnya?  Juga berkaitan dengan anda merasa diri anda pengikut yang baik atau pemimpin yang hebat?   Merasa punya semua bakat dan potensi yang dibutuhkan atau tidak?
Nah, kesuksesan diawali dari keyakinan positif atas diri sendiri.  Anda yakin anda dilahirkan untuk sukses.  Anda orang baik.  Anda ganteng / cantik. Anda layak kaya dan menjadi orang kelas atas.  Anda percaya diri berhadapan dengan orang lain.  Tidak rendah diri.  Tidak juga sombong. Anda layak menjadi pemimpin hebat. Anda pun yakin sekali anda dianugerahi bakat dan potensi yang cukup untuk meraih sukses yang anda inginkan. 
Kenapa ini penting?  Karena hanya orang yang yakin bahwa dirinya layak sukses yang akan meraih sukses itu.  Iya kan?

<!--[if !supportLists]-->2.       <!--[endif]-->Melakukan Keharusan.
Langkah kedua adalah melakukan keharusan.  Dari keharusan yang mendasar dan sederhana sampai melakukan keharusan yang sulit dan rumit.  Keharusan – yang paling sederhana sekalipun – biasanya tidak menyenangkan.  Tapi sangat baik bila dilakukan. 
Keharusan ini bersifat seperti imunisasi.  Bayi harus diimunisasi.  Ini sebuah keharusan. Sakit rasanya, tapi menguatkan.  Sedih melihatnya, tapi harus melakukannya.  Resiko lebih besar harus ditanggung bila keharusan ini tak dilakukan. 

Setiap orang harus bangun pagi-pagi.  Setiap orang harus berolahraga. Setiap orang harus makan makanan sehat dan bergizi.  Setiap orang harus bisa mengurus dirinya sendiri.  Setiap orang harus bisa berpikir.  Setiap orang harus bisa memecahkan masalah.  Setiap orang harus terus belajar. Itulah beberapa keharusan yang mendasar.

Bila anda karyawan, anda harus disiplin.  Taat aturan.  Betapa pun aturan itu membuat anda kesal.  Bila anda pebisnis, anda harus punya nilai lebih. Betapa pun sulitnya memiliki nilai lebih itu.  Bila anda atlet, anda harus keras berlatih.  Meski itu melelahkan.

Nah, bisakah anda meraih sukses bila anda tak bisa melakukan keharusan anda?  Tidak!!!  100% tidak bisa sukses.

<!--[if !supportLists]-->3.       <!--[endif]-->Membentuk Kebiasaan Positif.
Langkah ketiga adalah hasil langkah kedua yang benar-benar jelas, terus dilakukan berulang-ulang secara konsisten.  Setiap orang harus bangun pagi.  Maka pagi bisa berarti pukul empat, lima, enam, tujuh, delapan atau bahkan sembilan.  Bila anda bangun tidur pukul empat di hari Senin, pukul tujuh di hari Selasa, pukul lima di hari Rabu, pukul delapan di hari Kamis, maka anda baru melakukan keharusan.  Keharusan anda belum menjadi kebiasaan.  Ketika anda secara konsisten – setiap hari – bangun pukul empat, itulah kebiasaan.  Sebuah kebiasaan positif harus  benar-benar jelas. 

Ketika melihat orang kecelakaan, anda sigap membantu.  Anda melakukan keharusan anda.  Tapi hal ini tak terjadi setiap hari, kan?  Maka ini bukan kebiasaan.  Mematikan lampu yang tak digunakan adalah keharusan. Selalu mematikan lampu yang tak digunakan adalah kebiasaan.  Nah, keharusan dan kebiasaan dibedakan oleh satu kata saja : selalu.  Satu kata yang benar-benar sangat menentukan.

Keyakinan positif, Melakukan keharusan dan Membentuk kebiasaan positif adalah fondasi sukses anda.  Ia seperti batu, pasir dan semen dalam fondasi rumah.  Salah satu kurang, fondasi tak kuat.  Rumah tak bisa dibangun di atas fondasi yang rapuh.  Sukses pun begitu.  Hanya bisa diraih bila fondasinya kuat.

<!--[if !supportLists]-->4.       <!--[endif]-->Membentuk Kebiasaan Produktif
Kebiasaan produktif berbeda dengan kebiasaan positif.  Kebiasaan positif berarti tidak negatif, tidak merugikan, dan menyenangkan, tapi tidak menghasilkan kemajuan secara langsung.  Kesuksesan diraih secara langsung oleh kebiasaan produktif. 

Membaca buku itu positif.  Apakah produktif?  Tidak.  Menulis buku lah yang produktif.  Hasilnya jelas sebuah buku.  Anda mungkin berpendapat, membaca buku kan menghasilkan pengetahuan.  Jadi ada hasilnya. Ada produknya.  Anda benar.  Tapi produknya masih di tahap mental, bukan fisikal.  Maka bila baru di tahap mental, belum bisa dikatakan produktif. Secara mental, anda bisa sangat paham tentang penjualan.  Produktif? Belum.  Jadi produktif bila anda telah menjual sesuatu.  Dan sesuatu yang anda jual itu ada yang beli.   

Apakah ini membuat produktif lebih penting dari positif?  Jelas tidak.  Anda akan sangat sulit untuk bisa produktif, bila anda tidak positif.

<!--[if !supportLists]-->5.       <!--[endif]-->Berkompetisi.
Kebiasaan produktif akan menghantarkan anda pada sukses. Tetapi untuk bisa bertahan dalam kesuksesan, anda harus siap dan mampu berkompetisi.   Tanpa ini, sukses hanya sekejap. Orang sukses adalah orang yang senang berkompetisi. Bersemangat ketika ada saingan.  Terpacu ketika ada lawan. Tetap rendah hati ketika menang.  Segera bangkit ketika dikalahkan.  Maka keyakinan, pelaksanaan keharusan, kebiasaan positif dan kebiasaan produktif benar-benar diuji.  Inilah ujian sebenarnya dari sebuah kesuksesan.

Meraih sukses sulit.  Mempertahankan kesuksesan jauh lebih sulit.  Maka sadari lah bahwa semua kesulitan itu memang sebuah kelayakan untuk orang hebat seperti anda.  Iya kan?

Bagaimana dengan kegagalan?  Ternyata, gagal pun membentuk sebuah pola.  Pola yang berkebalikan dari pola sukses. Berarti orang gagal itu:
<!--[if !supportLists]-->1.       <!--[endif]-->Keyakinan pada dirinya sendiri negatif.
<!--[if !supportLists]-->2.       <!--[endif]-->Tidak melakukan keharusannya, malah asyik melakukan kesenangan.
<!--[if !supportLists]-->3.       <!--[endif]-->Terbentuk kebiasaannya yang negatif.
<!--[if !supportLists]-->4.       <!--[endif]-->Terbentuk kebiasaannya yang merusak.
<!--[if !supportLists]-->5.       <!--[endif]-->Menyerah kalah sebelum berkompetisi.
Nah, ini jadi bahan introspeksi kita bersama.  Berada di pola mana hidup kita? Pola sukses atau pola gagal?  Berada di tahap mana pada pola tersebut?
 Narasumber
desiren89@gmail.com

Read more...

Pengembangan diri


Mengubah Utang Menjadi Kekayaan

Pak Hasan, kolega saya di Institut Kemandirian.  Suatu ketika ia menyampaikan ceramah singkat setelah shalat zuhur.  Ceramahnya tentang  seorang pengusaha di Bandung.  Suatu ketika, sang pengusaha ditimpa bencana.  Ia pun down dan frustasi.  Bisnisnya hampir-hampir hancur.  Sang pengusaha lalu melakukan perjalanan dari mesjid ke mesjid.  Dari perjalanan inilah, ia memperoleh pola  pikir baru.  Ia benar-benar tercerahkan.

Pencerahan yang ia alami adalah tentang shalat.  Untuknya dulu, shalat adalah aktivitas jeda di tengah kesibukan bekerja.  Sekarang berubah menjadi: ”Kerja adalah aktivitas selingan untuk menunggu shalat”.

Perubahan yang dilakukan sang pengusaha ini ternyata berhasil membuat bisnisnya meningkat lagi.  Ia bahkan merubah sistem bisnisnya sesuai prinsip baru tersebut.  Bisnisnya bisa kembali maju seperti semula.

Itulah isi ringkas dari ceramah Pak Hasan.  Cerita tentang sang pengusaha itu menyentak hati saya.  Saya dan semua jamaah shalat zuhur langsung berniat dan bertekad untuk juga membuat perubahan yang sama.

Nah saudara, itulah hebatnya pikiran.  Ia menjadi awal dari tindakan yang bisa membuat perubahan menuju pada kesuksesan.  Karenanya, gunakanlah pikiran anda untuk mendukung anda, bukan untuk mensabotase kesuksesan diri anda sendiri.

Dalam kaitannya dengan topik: ”Kaya dari berutang”, maka diperlukan beberapa pola pikir yang yang mendasarinya.  Dengan pola pikir ini, maka kondisi kaya dari utang menjadi mungkin.

Penolakan pada pola pikir ini akan menjauhkan anda menggunakan utang sebagai alat menuju kaya.  Anda akan menghindari utang.   Langkah-langkah yang diterangkan berikutnya mungkin menjadi tak berarti.  Itulah sebabnya, kenapa bagian ini menjadi bagian mendasar yang sangat penting.

Bagian kaya sejati memberikan gambaran pada anda tentang tujuan yang ingin diraih.  Dari sana lah semuanya berasal.  Setelah tujuan jelas, maka anda harus mempersiapkan diri.  Inilah fungsinya bagian menjadi achiever.  Dengan menjadi achiever berarti anda telah siap untuk melangkah menuju tujuan kaya sejati.  Nah, sekarang saatnya anda memilih alat.  Apakah anda mau gunakan mobil, motor, sepeda, kereta, pesawat terbang, kapal laut, atau hanya jalan kaki?

Naik pesawat terbang bisa lebih cepat menghantar anda ke tujuan.  Tapi bila anda belum terbiasa menggunakan pesawat terbang, tentu tidak mudah juga.  Apalagi bila di benak anda tersimpan file-file buruk tentang pesawat terbang.  Misalnya tiketnya mahal, bahaya karena pesawat terbang bisa jatuh, ada tetangga yang meninggal karena kecelakan pesawat terbang, dan sebagainya.

Nah, untuk memutuskan menggunakan pesawat terbang, anda tentu saja harus mengganti file-file buruk di benak anda itu.  Ganti lah file buruk itu dengan file baik.  Misalnya, menggunakan pesawat terbang itu lebih nyaman, cepat, relatif aman dibanding yang alat transportasi lain, lebih bergengsi, terjamin asuransi, dan sebagainya.

Sama juga dengan utang.  Untuk menggunakan utang sebagai alat meraih kualitas kaya sejati, maka anda harus mengganti file buruk di benak anda tentang untang dengan file baik.  Dengannya, anda akan semangat melakukannya.  Berbagai rintangan, hambatan dan masalah yang kemudian terjadi akan anda hadapi dengan lapang dada, kreatif dan fokus.
Lalu, apa saja file-file baik yang harus mengganti file-file buruk di benak anda.  Bila menyangkut utang, maka ada lima file baik yang anda butuhkan bila anda ingin menggunakan utang.  Berikut kelima file baik tersebut.

1. Utang itu baik-baik saja.

Berutang adalah hal yang baik-baik saja.  Utang itu tidak buruk.  Ia tergantung kepada orangnya.  Utang bisa buruk di tangan orang yang lemah dan salah.  Tapi utang bisa baik dan memperbaiki di tangan orang yang kuat dan benar.  Itulah sebabnya, bila anda mau kaya dari utang, anda harus mempunyai kualitas achiever.  Para achiever adalah orang-orang yang kuat dan teguh memegang kebenaran.
Suatu ketika, saya baca buku Pak Quraish Shihab.  Judulnya Lentera Hati.  Salah satu bab dalam buku itu menerangkan adanya kesamaan antara agama (dalam bahasa Arab istilahnya : Din) dengan utang (dalam bahasa Arab istilahnya: dain).

Akar kata agama dan utang ternyata sama.  Pak Quraish menyimpulkan bahwa bila anda beragama dengan benar, maka hal itu sama saja seperti anda membayar utang pada Allah SWT.  Apakah anda merasa berutang pada Allah karena telah memberikan banyak nikmat untuk anda?
Terus terang saja, uraian Pak Quraish mengagetkan saya.  Hal itu adalah pencerahan baru untuk saya.  Salah satu motivasi saya menulis buku ini adalah uraian tersebut.  Selama ini di benak saya pun tersimpan file: ”Utang itu buruk”.  Dengan begitu saya berusaha sekuat tenaga menghindarinya.  Sekarang, file itu telah berganti menjadi: ”Utang itu baik-baik saja”.

Dengan yakin bahwa utang adalah hal yang baik-baik saja, maka anda sedang membuka pintu peluang menggunakan utang dengan sebuah rencana yang baik.  Iya, kan?  Mungkinkah anda membuat rencana yang baik akan sesuatu yang menurut anda buruk?  Bagi anda yang masih manusia normal, nggak mungkin, kan?

Misalnya korupsi.  Korupsi adalah sesuatu yang buruk.  Apakah ada orang yang merencanakan korupsi dengan sangat baik sehingga tidak pernah terungkap?  Banyak.  Siapa mereka?  Tentu saja mereka orang-orang yang jahat.  Hanya orang jahat yang merencanakan keburukan dengan sangat baik dan rapi.  Pernahkah anda korupsi?  Bila pernah, bertaubatlah segera.

2. Utang adalah alat yang hebat.

Pernahkah anda mendengar istilah BODOL?  Istilah ini kepanjangannya adalah Berani Optimis Duit Orang Lain.  Istilah BODOL sering dilekatkan pada orang yang mau wirausaha tetapi nggak punya modal.  Modal mereka adalah keberanian dan optimismenya saja. 

Banyak orang yang sukses dengan prinsip BODOL ini.  Tentu, pada prakteknya bukan hanya berani dan optimis saja modalnya, tapi juga didukung hal-hal lain, seperti kompetensi, komunikasi yang bagus, relasi yang banyak dan sebagainya.

Prinsip BODOL membuktikan bahwa utang adalah salah satu alat yang hebat.  Nah, di dunia ini banyak alat hebat yang bisa membantu anda meraih sukses.  Kita mengenal bola lampu yang ditemukan oleh Thomas Alfa Edison.  Setelah melalui 10.000 kali kegagalan, Pak Edison berhasil ’menerangi’ dunia ini.  Bola lampu membuat revolusi di dunia.  Ia alat yang hebat.

Bola lampu adalah salah satu contoh.  Contoh lain ada mesin cetak, motor, mobil, telepon, pesawat terbang, kapal laut, mikroskop, energi atom, lensa, komputer, internet dan sebagainya.  Semua alat-alat ini membuat hidup manusia lebih mudah dan lebih nyaman. 

Tapi itu semua hanya alat.  Manusia di belakang alat itu lah yang menentukan apakah alat hebat itu bisa membangun atau menghancurkan.  Pesawat terbang contohnya.  Dengan pesawat terbang, anda bisa berpindah tempat di bumi ini dengan cepat, dibanding alat-alat lain.  Ketika pesawat terbang digunakan untuk transportasi massal, maka ia bermanfaat besar.

Tapi ketika pesawat terbang digunakan untuk mesin perang, maka kehancuran yang terjadi.  Pada perang dunia pertama dan kedua, pesawat terbang berperan sangat besar untuk menghancurkan lawan.  Bom atom yang diledakkan Amerika di Nagasaki dan Hiroshima Jepang pada 1945, diangkut menggunakan pesawat terbang.  Akibat bom atom itu, terjadi perusakan luar biasa di Jepang.

Sama juga dengan internet misalnya.  Dengan alat ini, anda bisa berkomunikasi dengan lebih murah, cepat dan mudah.  Tapi, internet juga bisa sangat merusak ketika banyak virus ’dilepas’ ke jaringan.  Banyak komputer yang rusak, data hilang, dan sebagainya.  Atau ketika internet itu dipenuhi situs-situs porno.  Wah, dia benar-benar buruk dan merusak.
Demikian pula halnya dengan utang.  Utang adalah akses keuangan yang cepat.  Dibandingkan menabung, maka utang bisa menyediakan uang dengan lebih cepat.  Kecepatan memperoleh uang ini adalah keunggulan utang.

Misalnya anda seorang karyawan yang ingin berbisnis kecil-kecilan.  Modalnya Rp. 5 juta.  Anda sebenarnya bisa menabung dari gaji anda sebesar Rp. 500 ribu per bulan.  Nah, dengan menabung berarti anda harus menunggu sampai 10 bulan dulu agar uang Rp. 5 juta itu ada di tangan anda.

Bagaimana dengan utang?  Dibutuhkan berapa lama untuk mendapatkan Rp. 5 juta?  Mungkin tidak sampai satu bulan.  Anda bisa menghubungi lembaga keuangan mikro untuk mendapatkan modal tersebut.  Setiap bulan anda bayar utang itu dengan  mencicil.  Nah, karena uang Rp. 5 juta itu digunakan untuk bisnis, maka anda bisa mencicil utang itu bukan dari gaji anda, tapi dari hasil bisnis anda.
Anda mungkin bertanya: ”Oke lah utang itu lebih cepat, tapi resikonya kan juga lebih besar?”  Yap, anda relatif benar.  Mengapa relatif benar?  Karena utang itu akan menimbulkan resiko besar, bila anda tidak siap.  Tapi, bila anda siap, resiko itu jadi mengecil.

Berbisnis dengan modal dari utang akan beresiko besar bila anda belum tahu apa-apa tentang bisnis itu.  Atau anda percayakan saja bisnis itu ke orang lain yang juga belum berpengalaman.  Atau anda berbisnis di bidang yang sudah ditinggalkan orang lain.  Atau lagi, anda berbisnis di bidang yang melawan pesaing yang sudah besar.

Tapi, resiko bisnis itu menjadi mengecil bila anda sudah berpengalaman di bisnis itu atau bekerja sama dengan orang yang sudah berpengalaman.  Modal bisnisnya bukan semua dari anda, tapi ada juga dari orang lain.  Atau anda membeli waralaba bisnis yang sudah terbukti kehandalan sistemnya.  Nah, banyak kan cara untuk mengecilkan resiko bisnis.  Bila demikian yang anda lakukan, maka anda berutang pun untuk dapat modal bisnis, kemungkinan anda untuk sukses menjadi lebih besar.

3. Utang adalah salah satu sumber kekayaan.

Siapa orang paling kaya yang anda tahu di Indonesia ini?  Darimana beliau (orang kaya tersebut) memperoleh kekayaannya?  Kerja keras?  Pasti.  Orangnya jujur terpercaya?  Pasti.  Beliau sangat kompeten?  Pasti juga.

Hal-hal yang disebutkan di atas adalah fondasi bagi siapapun untuk meraih kekayaan.  Tapi, apakah semua orang kaya itu benar-benar kaya?  Belum tentu.  Ada banyak orang kaya yang tidak benar-benar kaya.  Kekayaannya bisa saja banyak, tapi cenderung tetap.  Pertambahannya kecil.

Nah saudara, anda boleh percaya boleh tidak.  Orang-orang yang benar-benar kaya adalah orang-orang yang mempunyai fondasi kekayaan tersebut, dan mereka menggunakan utang sebagai salah satu sumber kekayaannya.  Orang kaya yang tidak menggunakan utang, maka kekayaannya sangat mungkin terbatas.  Tapi orang kaya yang juga menggunakan utang, maka kekayaannya bisa bertambah dengan cepat.

Kenapa?

Karena ketika anda hanya mengandalkan kemampuan uang anda sendiri, maka anda akan terbentur oleh keterbatasan uang anda.  Tapi, ketika anda menggunakan utang, maka batas jumlah uang anda itu menjadi tidak ada.  Bila anda berbisnis, maka modal anda bisa dikatakan tidak berbatas bila menggunakan utang.  Hasilnya?  Ya,... juga tidak berbatas.

Inilah kunci orang-orang yang benar-benar kaya.  Mereka gunakan utang sebagai alat meraih kekayaan.  Mereka atasi ketakutan akan utang itu dengan perhitungan yang akurat dan kemampuan yang terasah.  Mereka berani mencobanya.  Pada kenyataannya, mereka juga gagal koq menggunakan alat ini.  Tapi kegagalan itu lah yang justru menajamkan perhitungan mereka dan membesarkan keberanian mereka.  Keseimbangan antara kebesaran keberanian dan ketajaman perhitungan akan utang ini lah yang membuka pintu kekayaan luar biasa.
Apakah anda sudah siap untuk jadi orang yang benar-benar kaya?  Gunakan uang anda untuk itu.  Dan gunakan juga utang!

4. Utang, dekatilah...

Saudara, anda sudah tahu sekarang tiga file baik tentang utang.   Utang itu baik-baik saja, alat yang hebat dan sumber kekayaan.  Karena itu, dekati lah utang saudara.

Anda, saya yakin, senang berdekatan dengan hal-hal atau orang-orang yang baik dan hebat, kan? Nah, tiga file baik sebelumnya telah membuktikan bahwa utang memenuhi kriteria  baik dan hebat ini, kan?  Karena itu, mulailah dekati utang. 

Pada prakteknya, mulailah tidak alergi dengan lembaga-lembaga keuangan seperti bank.  Bahkan, bukan hanya tidak alergi, tapi anda mulai senang dengan fungsi bank yang lain, yaitu memberi utang.  Inilah sebenarnya fungsi bank yang lebih hebat dari memberikan keamanan pada uang anda yang anda simpan disana.  Bank adalah sumber uang.  Utang adalah jalannya.

Pada bab-bab berikutnya, anda akan dipandu untuk menggunakan kekuatan bank dalam memberikan utang ini untuk kesuksesan anda.  Bukan hanya kesuksesan bank semata. 

Pada prakteknya lagi, ternyata sumber utang itu bukan hanya bank, tapi juga orang-orang di sekitar anda.  Orang-orang di sekitar anda kan punya uang, sedikit atau sebanyak apapun.  Nah, itu berarti anda bisa gunakan uang tersebut melalui jalan sah dan halal yang namanya utang.

Anda boleh percaya atau tidak, orang-orang di sekitar anda sebenarnya sangat senang bisa memberi utang pada anda.  Toh, anda teman mereka.  Mereka tahu anda orang baik.  Tentu, asal tujuan dan cara anda berutang adalah benar dan baik.  Iya, kan?

5. Utang harus dikembalikan.

Ini pola pikir tentang utang yang sangat penting.  Tanpa pola pikir ini, sebaiknya anda jangan pernah berutang.  Bukannya kekayaan dan kesuksesan yang akan anda raih, tapi justru kecelakaan dan mungkin penjara.  Itu bila anda berutang.
Bagaimana bila orang lain yang berutang?

Sama saja.  Utang itu pun harus dikembalikan pada anda.  Jadi, baik anda yang berutang atau orang lain yang berutang pada anda, maka utang itu harus dikembalikan.  Inilah pola pikir dan prinsip sangat penting bila anda ingin kaya dari utang.  Utang itu harus dikembalikan.

Bagaimana bila utang anda justru tidak ditagih oleh yang punya uang?  Sama saja.  Anda harus kembalikan.
Bagaimana bila utang anda justru dihadiahkan oleh yang punya uang?  Saran saya: Tolak.  Jangan mau.  Katakan terima kasih padanya, lalu tolak.  Anda mampu mengembalikan utang itu koq.  Kenapa harus dihadiahkan?  Dengan menolak, anda tetap mempertahankan nilai baik di mata semua orang.  Tentu saja, dalam kasus ini, anda harus juga melihat kondisi anda.  Bila kondisi anda memang sedang sangat susah, maka tidak apa-apa juga anda menerima hadiah itu.  Tapi tetap dengan satu syarat.  Bila anda lalu memiliki kemampuan, maka anda akan juga menghadiahi orang tersebut.  Tidak mesti dalam bentuk uang.  Bisa dalam bentuk hadiah barang.  Dengan begitu, anda dan dia sudah sama-sama berbuat baik.

Bagaimana bila orang lain yang berutang pada anda.  Lihatlah kemampuannya.  Bila ia berada dalam keadaan susah, maka silakan menghadiahkan utang tersebut padanya.  Semuanya atau sebagian.  Dan yakinlah, tindakan anda tersebut adalah perbuatan mulia dan akan dibalas dengan balasan yang lebih baik lagi.

Terus terang saja, kalau tentang utang, banyak orang yang pola pikirnya justru berbeda.  ”Pengennya dapat utang, tapi nggak mau atau malas mengembalikan”.  Wah, dengan pola pikir begini, anda tidak akan pernah kaya dari utang.
Alasan penting kenapa utang harus dikembalikan adalah kepercayaan.  Bila anda tidak atau telat mengembalikan utang, maka kepercayaan orang lain pada anda akan menurun dan akhirnya rusak. Ini kondisi yang sangat buruk.  Bila orang-orang lain sudah tidak percaya pada anda, maka jalan anda menuju sukses makin kecil, terjal dan lebih banyak rintangannya.  Awal dari kesuksesan anda adalah kepercayaan orang lain pada anda.

Sayangnya, banyak orang yang sudah ’gila’.  Mereka menukar kepercayaan dengan uang.  Sayang sekali.  Padahal bila kepercayaan sudah ternoda, uang sebanyak apapun akan susah menggantinya.
Tekanan hidup di jaman sekarang ternyata bisa membuat orang menjadi ’gila’.  Uang telah menjadi hal yang sangat penting.  Sampai bisa lebih penting dari kepercayaan, keluarga, agama, gelar, ilmu, rasa malu, nilai-nilai luhur kemanusiaan dan sebagainya.  Bila sudah begini, para orang ’gila’ ini bisa melakukan apa saja demi uang.  Meski dengan resiko yang luar biasa besarnya. 

Banyak kasus tentang utang di Indonesia yang bisa kita jadikan pelajaran.  Ada pengusaha pertanian yang membuat program investasi yang nggak rasional. Bisa memberikan keuntungan sampai 30% per bulan dari modal.

Pada bulan-bulan pertama program itu berjalan lancar.  Para investor benar-benar mendapatkan keuntungan sebesar 30% dari modal yang ditanamnya.   Mereka pun berinvestasi lagi.  Terus begitu.  Sampai pada akhirnya, bisnis pertanian itu pun terbuka topengnya.  Ternyata, bisnis itu hanya omong kosong.  Lahan pertanian yang dikelola tidak seluas yang dipromosikan.  Jelas hasilnya pun tidak memadai dibanding investasi yang didapat.

Keuntungan 30% dari modal dibayarkan dari dana investasi yang baru.  Seperti gali lobang tutup lobang.  Hanya saja lobang yang digali makin besar dari bulan ke bulan.  Dan terbongkarlah topeng itu.  Masyarakat tahu kebohongan bisnis itu.  Dana investasi itu jadi utang yang harus dikembalikan.  Ketika kemampuan bayarnya tidak ada, sang pemilik bisnis pertanian fiktif itu pun jadi buronan.  Lalu diproses pengadilan dan menginaplah ia di hotel prodeo.  Masyarakat yang kena tipu ternyata banyak sekali.  Koq bisa ya?

Saudara, itulah lima pola pikir tentang utang yang bisa membuat anda menjadi kaya.  Gantilah file-file buruk tentang utang di benak anda dengan lima file baik tersebut.  Bila ini sudah anda lakukan, berarti anda sudah siap menggunakan utang sebagai alat meraih kekayaan.  Langkah selanjutnya, anda harus mengetahui dan menguasai keterampilan mengelola utang ini.
Narasumber
desiren89@gmail.com

Read more...

Pengembangan diri


Melihat kegagalan dari konteks pencapaian

Apa yang dimaksud dengan kegagalan dan apakah kita perlu mempelajarinya untuk mencapai sukses?

Menarik untuk disimak, kegagalan bisa diartikan berbeda oleh banyak orang. Satu pandangan mengatakan kegagalan adalah ketidakmampuan mencapai apa yang diinginkan. Sementara ada juga yang menganggap kegagalan terjadi akibat terlalu memaksakan diri melakukan sesuatu yang melebihi kemampuan yang ada atau istilahnya “nafsu besar tenaga kurang”.

Lantas pertanyaannya, apakah kita perlu mempelajari kegagalan?

Kalau kita bercermin pada perusahaan-perusahaan dan tokoh-tokoh besar dunia, mempelajari kegagalan hanya berguna dalam konteks pencapaian sukses.

Dalam hal ini, kegagalan memberikan pengetahuan tentang apa yang kita luput lakukan di masa lalu dan bagaimana kita sebaiknyamelakukannya di masa depan agar sukses tercapai.
Eksperimen hari ini:

1. Pilih satu hal yang ingin Anda tampilkan berbeda?
Misalnya: bagaimana tindakan saya bisa memberikan dampak positif bagi orang-orang?

2. Ambil contoh tiga orang yang Anda anggap mewakili “role model yang sukses” di area ini
Misalnya: Nelson Mandela, Soekarno, Ayah Anda sendiri.

3. Sikap apa yang kira-kira mereka sama-sama miliki? Adakah kesamaan karakter dan strategi mereka?
Misalnya: mereka punya keyakinan diri, mereka mau mengambil risiko, mereka menyayangi orang-orang disekitarnya.

4. Sekarang ambil satu orang yang Anda anggap gagal di area ini
Misalnya: Hitler

5. Apa yang sama antara orang ini dengan ketiga orang yang sukses?
Misalnya: barangkali dia juga punya keyakinan diri, juga mau mengambil risiko (meskipun dijalan yang merugikan)

6. Apa perbedaannya?
Misalnya: Dia mengajarkan kebencian, memposisikan dirinya diatas orang lain.

7. Sekarang kembali ke role model yang sukses. Jika Anda ingin seperti mereka, apa yang bisa Anda lakukan yang berbeda dengan contoh yang gagal?
Misalnya: mengajarkan kasih sayang, memperlakukan orang lain setara, berani mengambil risiko tanpa merugikan orang lain.

Selamat bereksperimen dan salam sukses!
narasumber
desiren89@gmail.com

Read more...

Pengembangan diri


Luaskan jiwa, bergembira dengan masalah apapun.

Dalam tulisan saya : Masalah, I Love You, saya harap anda sudah belajar untuk terus meningkatkan kemampuan.  Proses ini penting agar masalah bisa diselesaikan dan anda menjadi pribadi yang terus berkembang. Pengembangan diri yang by design jadinya.  Pada kesempatan kali ini, mari kita bedah tentang seberapa besar sih masalah yang anda hadapi menekan anda.

Untuk banyak orang, masalah besar pastilah menimbulkan tekanan yang besar pula.  Iya kan?  Masalah kekurangan uang Rp. 1 juta jelas berbeda dengan masalah kekurangan uang Rp.5 Milyar.  Tapi apakah tekanan yang diberikan dua masalah ini sama juga?  Belum tentu!

Dalam fisika kita mengenal sebuah rumus tekanan.  Dia adalah gaya dibandingkan dengan luas penampang. P = F/A. (P = Tekanan, F = Gaya, A = Luas Penampang).  Dalam kehidupan mental dan emosi, tekanan adalah tingkat stress anda.  Gaya adalah besarnya masalah yang anda hadapi.  Luas penampang adalah kondisi keluasan jiwa anda.

Jadi, berdasar rumus ini, masalah kurang uang Rp. 1 juta bisa menimbulkan stress yang lebih besar dari masalah kurang uang Rp. 5 milyar.  Koq bisa?  Iya, jika kurang uang Rp. 1 juta terjadi pada orang yang luas jiwanya misalnya 100 ribu, maka sterss yang dihadapi sebesar 10 (1 juta / 100 ribu).  Dan kurang uang Rp. 5 Milyar terjadi pada orang yang luas jiwanya misalnya 1 milyar, tekanannya cuma 5 (5 milyar / 1 milyar). Jadi, bukan besarnya masalah yang menjadi penyebab utama, tapi luas penampangnya, keluasan jiwa anda.

Mari kita pahami dengan tambahan ilustrasi ember dan air. Misalnya ada ember yang ukurannya 5 liter.  Jika ke dalamnya dimasukkan air sebanyak 3 liter, maka ember tersebut bisa menampungnya.  Tak ada air yang tumpah.  Hal ini sama dengan anda yang masih bisa tenang-tenang saja ketika menghadapi masalah yang lebih kecil dari keluasan jiwa anda. Tapi, bila dimasukkan air sebanyak 6 liter, maka akan tumpah 1 liter.

Luas penampang / ukuran ember / keluasan jiwa anda adalah faktor terpentingnya.  Bukan kemampuan.  Anda bisa saja punya utang Rp. 10 milyar, dan semua aset anda cuma bernilai Rp. 100 juta, dan anda tidak stress!  Koq bisa?  Yap, karena jiwa anda sangat luas.  Bahkan tak berbatas.  Untuk jiwa yang luas tak berbatas, masalah sebesar apapun tak akan menimbulkan stress.  Tapi, anda bisa punya utang Rp. 1 juta, punya aset senilai Rp. 10 milyar, dan anda stress.  Kenapa? Karena jiwa anda lebih sempit dari Rp. 1 juta. 

Betapa banyak di dunia ini, manusia-manusia dengan uang dan kekayaan yang luar biasa banyak, tapi masih saja meminta diskon untuk barang yang diinginkannya.  Itu berarti harta fisiknya besar, tapi jiwanya?  Banyak orang kaya yang langsung stress ketika harus menghadapi masalah yang kecil saja.  Sang jiwa mungkin terlalu dimanja oleh fasilitas.  Jiwa itu tidak tumbuh.  Ia kerdil.

Di alam ini ada lautan.  Berbagai macam air dapat diterima lautan dan dinetralkan.  Seberapa banyak pun air yang masuk ke lautan, lautan tidak keberatan.  Sistem alam bisa terus menyeimbangkan kondisi air di alam ini.  Kecuali bila manusia melakukan pengerusakan.

Jadilah lautan, luaskan jiwa

Marilah sekarang kita berlatih meluaskan sang jiwa.  Berikut tips-tipsnya:
  1. Berniat. Hal ini penting, karena membuat diri anda bersiap untuk melakukan sesuatu.
  2. Tutup mata.  Bayangkan lautan.  Bayangkan anda sebagai lautan.  Visualisasi ini penting karena otak lebih mudah bekerja dengan gambaran visual.
  3. Bentuk senyuman di bibir anda.
  4. Bayangkan masalah yang pernah anda hadapi.  Buat visualisasi anda kembali mengalaminya.  Rasakan rasa sakit di hati anda.  Bila tingkat sakit 1 – 10, Berapa tingkat sakit anda?
  5. Masih dengan rasa sakit di hati, bayangkan dan rasakan anda adalah lautan dengan jiwa yang lapang. 
  6. Masukkan masalah dan rasa sakit di hati anda ke dalam lautan.
  7. terus bayangkan masalah dan rasa sakit itu terbawa ombak dan makin jauh dari anda.
  8. Bagaimana perasaan anda sekarang?  Berapa tingkat sakit yang anda rasakan sekarang?
  9. Ucapkan terima kasih pada sang masalah.  Sadari bahwa masalah lah yang justru membuat anda menjadi pribadi yang kuat.
  10. Tersenyumlah lebih lebar.  Ucapkan terima kasih kembali. Bila tingkat senang 1 – 10, berapa tingkat kesenangan anda? 
  11. Tingkatkan kesenangan anda 5 kali lipat.
  12. Buka mata anda.  Bagaimana perasaan anda?
Narasumber
desiren89@gmail.com

Read more...

Pengembangan diri


Langkah Strategis Menjaga Motivasi

Salah satu faktor yang menghalangi Anda untuk sukses adalah kurangnya motivasi. Berapa kali Anda berkata, “Saya ingin kaya”, “Saya ingin berhasil” tetapi Anda tidak membuktikan dalam tindakan Anda bahwa Anda bisa kaya dan Anda bisa berhasil.

Kurangnya motivasi berkaitan dengan tidak jelasnya cara untuk mencapai tujuan Anda. Barangkali sering terlintas di pikiran Anda untuk menjadi pengusaha sukses atau mencapai karir tertentu di kantor, tapi Anda tidak tahu caranya sehingga Anda kurang termotivasi untuk mencapai apa yang Anda inginkan.
Disini saya akan mengajak Anda untuk melihat lima hal yang ingin Anda perhatikan agar Anda tetap termotivasi untuk memperoleh apa yang menjadi mimpi Anda:
Membuat Roadmap
Roadmap adalah cara atau strategi untuk mencapai sesuatu. Buatlah roadmap begitu Anda tahu apa tujuan Anda. Apakah Anda ingin memulai bisnis baru atau sekedar menurunkan berat badan, buatlah program yang membagi tujuan Anda tersebut menjadi langkah-langkah yang lebih detil disertai berapa lama waktu yang diperlukan.
Misalnya untuk menurunkan berat badan, isilah program Anda yang meliputi makanan, olahraga, dan istirahat. Kemudian jelaskan apa yang Anda akan lakukan untuk mengatur makanan, berolahraga, dan jam istirahat. Semakin jelas semakin baik sehingga Anda tahu persis apa yang harus Anda kerjakan di waktu tertentu.
Mengambil Tindakan
Sekarang Anda sudah menentukan tujuan dan merencanakan langkah-langkah strategis. Itu semua akan bergunna apabila Anda mengambil tindakan. Tanpa tindakan nyata tujuan dan rencana Anda hanya menjadi mimpi belaka. Tanpa ada manifestasi di tingkat praktis.

Rayakan kesuksesan Anda setiap kali Anda berhasil mengerjakan satu hal, terutama untuk kegiatan yang penting dalam pencapaian tujuan Anda. Penghargaan terhadap langkah Anda sekecil apapun akan memberikan kekuatan untuk mengambil tindakan berikutnya.
Ingatkan Diri Anda akan Keuntungan yang akan Anda Dapat
Izinkan diri Anda untuk membayangkan keuntungan yang akan Anda peroleh dari usaha yang Anda kerjakan sekarang. Bayangkan diri Anda menjadi langsing, kalau tujuan Anda untuk menurunkan berat badan. Atau bayangkan Anda berlibur ke tempat eksotik kalau karir yang Anda impikan sudah tercapai.

Motivasi akan timbul seiring dengan Anda mengingat apa saja benefit yang akan Anda raih dari kerja keras Anda selama ini.
Tetap Konsisten
Layaknya sebuah perjalanan, Anda akan menemui rintangan dan hambatan seiring Anda berjalan mencapai tujuan. Tetaplah konsisten dan yang penting tetap rileks dalam perjalanan ini. Barangkali Anda perlu merubah haluan sedikit seiring dengan informasi baru yang Anda peroleh. Tetap terbuka dan fleksibel.
Kalau Anda merasa kurang motivasi sehingga rasanya Anda tidak memperoleh kemajuan, ingatlah bahwa Anda tidak sendirian.  Banyak orang-orang di sekitar Anda yang memiliki masalah yang sama.

Satu hal yang ingin Anda tunjukan pada mereka: Anda berbeda. Dengan tujuan dan strategi yang jelas, halangan utama justru diri Anda sendiri. Yakinkan diri Anda bahwa Anda seorang pribadi yang sukses. Bukankah senang rasanya kalau Anda bisa mencapai apa yang Anda inginkan?

Narasumber
desiren89@gmail.com

Read more...

Pengembangan diri


Tentang Motivasi dan Strategi Sebuah Resolusi

Kalau Anda seperti kebanyakan orang tentunya Anda punya resolusi di tahun 2009 ini. Apakah resolusi ini ditulis diatas kertas ataupun hanya sekedar disimpan di kepala. Pastinya Anda punya tujuan ingin seperti apa di tahun 2009 ini.
Namun tidak banyak diantara kita yang mampu merealisasikan resolusi tahun baru. Seringnya kita jadi lupa ketika bulan mulai berganti dan kesibukan semakin bertambah. Disini saya ingin mengajak Anda untuk menyiapkan strategi membuat resolusi yang efektif sehingga Anda bisa mencapainya.
Kunci membuat resolusi yang sukses diawali dengan motivasi untuk betul-betul mengejar apa yang Anda inginkan.  Kebanyakan dari kita cenderung bertindak untuk menghindari apa yang tidak kita inginkan.
Kita pergi bekerja karena kita tidak ingin kurang uang.
Kita menikah karena kita tidak ingin hidup sendiri.
Kita berolahraga karena tidak ingin sakit.
Saya mengajak Anda untuk menginvestigasi pikiran yang menciptakan resolusi Anda. Selidiki apa motivasi Anda. Apakah Anda termotivasi karena Anda menghindari sesuatu?
Keinginan besar untuk mencapai tujuan akan terus menyala apabila motivasi Anda bersumber pada apa yang betul-betul Anda mau. Bukan karena mengikuti trend orang lain atau dipaksa oleh orang tua, pasangan, teman.
Namun tantangannya adalah tidak semua orang tahu apa yang mereka mau. Seringkali saya menanyakan hal ini pada klien saya: “Apa yang Anda inginkan?”. Jawabnya:”Hhmm…tidak tahu”. Akibatnya hidup mereka pun terjebak pada rutinitas yang bisa menimbulkan kebosanan dan sikap gampang menyerah.
Motivasi untuk mencapai keberhasilan dari resolusi Anda akan berlipat-lipat kalau resolusi Anda ini mewakili keinginan dan kecintaan Anda. Tidak usah bayangkan hal yang muluk-muluk. Misalnya resolusi Anda adalah ingin sukses di tempat kerja. Dari sini Anda menyusun strategi untuk mencapai tujuan Anda ini. Tips yang ingin saya berikan adalah:
  1. Definisikan lebih detil apa arti sukses di tempat kerja. Misalnya Anda seorang sales person, maka sukses bisa berarti bekerja lebih efektif untuk mencapai target penjualan 20 unit per bulan.
  2. Tentukan jangka waktu kapan Anda bisa mencapai target tersebut. Tiga bulan? Enam bulan?
  3. Susun strategi per bulan nya
  4. Amati pikiran Anda setiap saat. Apakah Anda mulai mengeluh? Berpikirlah positif dan selalu katakan “Yes” bahkan untuk hal yang tidak Anda suka sekalipun. Dengan mengatakan “Yes” Anda terbebas dari beban dan bisa belajar dari setiap keadaan yang Anda terima.
  5. Evaluasi progress Anda secara rutin.
Motivasi saja tidak cukup untuk mencapai tujuan. Anda perlu strategi sehingga proses menuju keberhasilan bisa berjalan konsisten. Tips diatas bisa membantu Anda untuk tetap on-track dengan resolusi Anda. Apakah itu keinginan untuk berhenti merokok atau menurunkan berat badan, Anda perlu motivasi kuat yang dibarengi strategi untuk mencapai tujuan.

Narasumber
desiren89@gmail.com

Read more...

Pengembangan diri


Berhenti Berpikir dan Take Action

The possibilities are numerous once we decide to act and not react." (George Bernard Shaw)
Menurut beliau, begitu kita berhenti berpikir dan segera bertindak kita membuka diri terhadap kesempatan yang jumlahnya banyak sekali, bahkan melebihi dugaan kita. Namun problemnya adalah seakan-akan kita tidak punya alasan yang cukup kuat kenapa kita harus mengambil tindakan. Berikut ini tiga alasan utama yang ingin Anda pertimbangan ketika Anda ragu-ragu untuk bertindak:
1. Hanya Anda yang bisa take action, bukan orang lain
Kalau Anda ditanya, “Siapa yang menjalankan hidup Anda?”, jawabnya pasti mudah: “Anda sendiri!”. Artinya Anda bertanggung jawab atas hidup Anda sendiri, bukan orang lain. Anda memiliki kekuatan untuk mengendalikan dan bahkan meningkatkan kualitas hidup Anda karena Anda sendirilah pilot pesawat hidup Anda.
Kalau Anda punya rencana bisnis, karir, atau rencana untuk merubah hidup maka Anda ingin menyadari bahwa tidak ada orang lain yang akan take the first action, kecuali Anda sendiri. Anda bisa mendapatkan bantuan dari keluarga, teman, buku, blog. Tapi tindakan harus diambil oleh Anda sendiri. Hidup Anda adalah tanggung jawab Anda. Buatlah pilihan dan keputusan yang membawa kebaikan bagi Anda sendiri.
2. Terapkan pengetahuan yang Anda miliki
Pastinya kalau Anda membaca artikel ini Anda seorang pencari ilmu di Internet. Barangkali Anda sudah membaca banyak buku dan blog. Anda mungkin merasa pengetahuan Anda sekarang bertambah. Tidak ada salahnya dengan itu. Saya sendiri mempunyai kebiasan membaca paling tidak 10 halaman sehari. Waktu bagi saya sangat berharga oleh karena itu saya sangat jarang sekali menonton televisi.
Lebih dari itu saya percaya bahwa mengumpulkan pengetahuan tidak bisa menggantikan action. Anda bisa membaca puluhan buku, namun apabila Anda tidak mempraktekkan apa yang Anda pelajari dari buku-buku itu semua pengetahuan yang Anda miliki bisa sia-sia belaka.
Menghadiri pelatihan atau seminar membantu Anda untuk memperoleh inspirasi. Barangkali Anda menjadi bersemangat untuk take action. Semangat ini ingin Anda tindak lanjutin dengan mengambil tindakan nyata dimana Anda betul-betul menerapkan pengetahuan yang Anda miliki.
3. Menjadi lebih pandai dengan mengerjakan
Ada ungkapan “you learn by doing” yang artinya pengetahuan Anda menjadi bertambah seiring Anda menerapkannya dalam tindakan nyata. Apabila Anda seorang yang haus pengetahuan, Anda akan terpacu untuk bereksperimen dengan pengetahuan yang Anda miliki dengan menerapkannya di kehidupan sehari-hari. Dengan menerapkan pengetahuan Anda menjadi semakin pintar dengan memahami hal-hal apa yang cocok bagi Anda dan mana yang tidak.
Dengan mengerjakan Anda barangkali menjadi tahu kalau metode yang Anda baca di buku ternyata lebih rumit ketika dipraktekkan. Hal ini memacu Anda untuk memperbaiki metode tersebut dengan cara yang sesuai dengan kondisi lingkungan disekitar Anda.

Pengalaman adalah guru yang terbaik. Melalui pengalaman Anda menemukan hal-hal baru dan membuktikan sendiri apa yang selama ini dikatakan oleh guru, mentor, pelatih dll. Inilah yang ingin Anda peroleh. Secara analogi: orang lain boleh saja mendeskripsikan bagaimana rasanya apel, tapi untuk merasakan buah apel itu Anda harus makan buahnya sendiri. Sampai Anda merasakan semua sensasinya: segar, manis, asem, berair, dll.

Semoga artikel ini memberikan inspirasi bagi Anda untuk mempraktekkan ide, gagasan, dan pengetahuan yang Anda miliki untuk perbaikan kualitas diri Anda. Hanya dengan take action hidup Anda bisa berubah dan Anda pun menjadi pribadi yang membanggakan bagi diri sendiri dan orang lain.

Narasumber
desiren89@gmail.com

Read more...
Diberdayakan oleh Blogger.

Pengikut

Alexa

About This Blog

Lorem Ipsum

  © Free Blogger Templates Wild Birds by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP