recent

daftar isi

DAFTAR ISI

recent post berjalan

Pengembangan diri

>> Jumat, 11 November 2011

Melawan Kebohongan Gerakan Pengembangan Diri -- (Bagian 1)

Editorial: 
Dear e-Reformed Netters,
Saya minta maaf sebesar-besarnya karena untuk beberapa saat e-Reformed tidak mengirimkan artikel. Semoga dengan pengiriman ini, Anda tidak lagi perlu menunggu. Doakan juga supaya pengiriman selanjutnya bisa kembali dilakukan secara teratur.
Kali ini saya mengirimkan sebuah artikel yang cukup panjang, karena itu saya akan membaginya menjadi dua bagian (dalam dua surat terpisah). Artikel ini adalah salah satu bab dari buku yang berjudul: "Help Yourself; Today's Obsession with Satan's Oldest Lie". Buku ini sangat menarik karena ditulis oleh seorang yang sangat prihatin melihat perkembangan gerakan pengembangan diri yang dilakukan oleh motivator-motivator yang notabene 'Kristen' tetapi sebenarnya mereka justru lebih banyak melawan konsep-konsep dasar iman Kristen. Tapi anehnya banyak orang Kristen, khususnya di Indonesia, yang tidak tanggap sehingga ikut terbawa arus jaman yang sangat trendi pada 5 tahun terakhir ini.
Yang lebih menakutkan lagi adalah pemimpin-pemimpin gereja pun ikut tergiur dengan penyesatan ini sehingga banyak gereja yang ikut-ikut mengadakan berbagai seminar-seminar motivasi yang bertemakan tentang, self-esteem/rasa percaya diri, berpikir positif, aktualisasi diri, keberhasilan/kesuksesan/kebahagiaan, pengembangan kepribadian yang holistik, kepemimpinan yang berpusatkan pada kekuatan/kharisma diri, dll.. Pemimpin gereja-gereja kecil, yang tidak mungkin bisa mengundang para motivator besar yang 'mahal', biasanya dengan diam-diam mulai membaca buku-buku motivasi pengembangan diri yang sekarang banyak sekali memenuhi toko-toko buku umum dan Kristen. Mereka melihat kunci ketidakberhasilan dirinya dan gerejanya bukan pada hal yang rohani tetapi pada diri, kepribadian dan sumber-sumber sekular yang jauh dari kebenaran Allah.
Penulis artikel di bawah ini sangat kuatir melihat trend gerakan pengembangan diri jaman ini yang dengan sangat mudah menyeret dan membohongi orang-orang Kristen untuk tidak lagi melihat Allah sebagai sumber kekuatan hidupnya, tetapi pada hal-hal lain. Karena itu, ia memberikan jalan keluar bagi mereka yang sedang atau yang sudah terlanjur tercebur dalam arus penyesatan ini dengan langkah-langkah yang tepat, yaitu:
  1. Mempelajari Alkitab
  2. Mempelajari Sejarah Gereja
  3. Pelajarilah Kredo-Kredo Gereja
  4. Mempelajari Apologetika
  5. Belajar Untuk Menerima Paradoks
  6. Mengevaluasi Buku-Buku Kehidupan Kristen
  7. Ingatlah Siapa Musuh Kita
Silakan membaca dan merenungkan seluruh artikel ini dengan teliti. Marilah kita dengan rendah hati segera kembali ke jalan yang benar dan kembali menempatkan dasar-dasar iman Kristen kita di atas "Batu Karang yang Teguh" supaya tidak mudah diombang-ambingkan oleh berbagai ajaran penyesatan yang ditawarkan oleh setan.
Selamat menyimak.
In Christ,
Yulia Oeniyati
< yulia(at)in-christ.net >
http://fb.sabda.org/reformed
Penulis: 
Stephanie Forbes
Edisi: 
No. 122/VI/2010
Tanggal: 
25-6-2010
Isi: 
Melawan Kebohongan Gerakan Pengembangan Diri (Bagian 1)
Adalah tugas utama seorang penulis untuk mengamati dan memberikan komentar kepada masyarakat sekitarnya, alih-alih menawarkan solusi- solusi kepada permasalahan-permasalahan mereka. Seperti para seniman lainnya, para penulis mengangkat pertanyaan-pertanyaan yang tidak harus mereka jawab sendiri. Tujuan seorang penulis adalah membuat pembaca berpikir.
Ada hal-hal yang dapat dan perlu kita lakukan sebagai orang-orang Kristen untuk melindungi diri kita melawan godaan kebohongan dari (penulis-penulis) gerakan pengembangan diri. Oleh karena itu, saya menawarkan saran-saran saya dalam artikel ini dengan kerendahan hati.
1. Mempelajari Alkitab
Garis perlindungan pertama kita melawan kebohongan musuh adalah Alkitab. Yesus sendiri menggunakan firman Allah untuk melawan serangan Iblis; Paulus membimbing Timotius dan mengatakan, "Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik"[1]. Dalam salah satu konfrontasinya dengan orang-orang Saduki, Yesus mengatakan bahwa mereka jatuh kepada kesalahan karena mereka tidak mengetahui Alkitab - - ini tudingan serius untuk orang Yahudi terpelajar mana pun. Bahkan kecaman Yesus, "Tidakkah kamu baca apa yang difirmankan Allah kepadamu," lebih keras daripada bantahan yang biasa dikeluarkan oleh para pendebat Yahudi, yang mengatakan kepada lawan-lawan mereka, "pergi dan baca" bagian firman Allah untuk menyudahi suatu argumen. Dalam tudingan-Nya, Yesus tidak hanya menekankan pentingnya Alkitab dalam kehidupan bangsa pilihan Allah, tetapi Dia juga menyalahkan mereka karena melalaikan tugas mereka kepada Tuhan, yaitu mempelajari Alkitab[2].
Kecaman Yesus bahkan lebih tepat lagi ditujukan untuk zaman sekarang. Pada orang-orang Kristen, baik kaum Protestan maupun Injili, karena terdapat jurang pemisah yang lebar antara pengetahuan mereka dan Alkitab. Menurut jajak pendapat Gallup, sekalipun delapan dari sepuluh orang AS mengaku bahwa ia orang Kristen, pengetahuan dasar Alkitab mereka mencapai titik terendah [di Amerika]. George Gallup, yang memiliki perusahaan untuk melakukan penelitian terhadap tren-tren rohani selama lima puluh tahun terakhir, mengatakan bahwa orang-orang AS tidak tahu apa yang mereka percayai ataupun mengapa mereka percaya. Gallup juga percaya bahwa buta Alkitab adalah masalah rohani, agama, dan kebudayaan yang serius di AS[3]. Thomas Ehrlich, profesor etika dan rektor Universitas Indiana, setuju dengan pendapat tersebut. Dia mengamati bahwa saat ini hanya segelintir mahasiswa saja yang membaca Alkitab sejak kecil[4].
Seburuk-buruknya buta Alkitab, membelokkan (menyalahgunakan) Alkitab adalah masalah yang lebih serius lagi. Tidak memedulikan firman Allah berbeda dengan membelokkan (melakukan distorsi) firman Allah. Tidak memedulikan Alkitab hanya memengaruhi orang yang hidup dalam ketidakpedulian itu sendiri. Tetapi, membelokkan Alkitab memengaruhi semua orang yang mendengarnya -- baik orang yang percaya, lebih buruk lagi orang yang belum percaya -- yang mungkin dipengaruhi oleh interpretasi yang salah tersebut.
Distorsi Alkitab adalah taktik yang lazim digunakan di antara penulis- penulis buku pengembangan diri, baik penulis Kristen maupun non- Kristen. Salah satu penulis pengembangan diri Kristen menganjurkan kita untuk mendengar firman Allah dengan saksama, dan kita akan mendengar bahwa Allah mengatakan, Dia menyukai diri kita apa adanya[5]. Penulis teologi sukses Kristen lainnya mengutip Perjanjian Lama dan Baru secara acak untuk membuktikan bahwa Yesus adalah penjual ulung yang telah memberikan kita alat untuk meraih kekayaan dan prestasi[6]. Penulis lain mengatakan bahwa tantangan sesungguhnya dari Alkitab bukannya memberi, melainkan menerima kasih[7]. Selain itu, salah satu penulis non-Kristen yang menulis buku pengembangan diri menafsirkan perkataan Yesus "Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah" dengan mengartikan bahwa orang yang menyucikan kesadarannya akan melihat diri mereka sendiri sebagai Allah[8]. Hampir semua pengikut gerakan berpikir positif mengutip Amsal 23:7 untuk membuktikan bahwa, "apa yang engkau pikirkan, demikianlah hal itu terjadi."
"Tindakan memanipulasi Alkitab mengalir seperti sungai di sepanjang sejarah gereja. Tetapi saat ini, pelecehan seperti itu telah berubah menjadi banjir," tulis G. Walter Hansen, seorang pakar Perjanjian Baru. Ia memperingatkan kita, "jika kita menggunakan Alkitab hanya sebagai cermin untuk melihat diri sendiri, kita akan berakhir dengan melihat refleksi keinginan diri kita sendiri lebih daripada pengungkapan kehendak Allah"[9].
Namun, sebelum kita menyalahkan [para pendukung] gerakan pengembangan diri untuk pelecehan ini, kita perlu menanyakan diri kita sendiri apakah kita juga bersalah. Berapa banyak kelas-kelas pedalaman Alkitab yang Anda hadiri yang pembinanya menanyakan, "Apa makna ayat ini 'bagi Anda'?" Atau berapa kali Anda sendiri telah memimpin kelas dan menanyakan pertanyaan tersebut? Kesalahan dari pertanyaan ini adalah ia gagal memberikan perbedaan mendasar antara kepentingan pribadi dan artinya. Walt Russell, seorang pakar Alkitab, menjelaskan perbedaannya: "Arti dari sebuah tulisan tidak pernah berubah. Sebaliknya, kepentingan tulisan tersebut bagi saya atau orang lain sangat tak tetap dan fleksibel. Dengan membingungkan kedua aspek proses interpretasi ini, orang-orang Injili, memahami Alkitab dengan "interpretive relativism". Jika [sebuah tulisan] memiliki satu arti tertentu bagi Anda tapi berlawanan dengan yang saya mengerti, maka tidak ada lembaga tinggi apapun untuk bisa naik banding. Kita tidak akan pernah dapat menetapkan dan memvalidasikan interpretasi mana yang benar"[10].
Relativisme? Saya merasa tidak ada serangan lain yang lebih menjijikkan di mata orang-orang Injili daripada keyakinan relativisme. Memang benar, orang-orang Injili sering menyerang relativisme masyarakat modern, moralitas modern, etika modern, dan kebenaran modern. Akan tetapi, simaklah statistik-statistik dari jajak pendapat Barna Reseacrh Group berikut ini. Saat ditanyai tentang kebenaran absolut, 66 persen orang AS dewasa (dan jumlah mengejutkan sebanyak 72 persen orang AS antara umur 18 sampai 25 tahun) menganggap bahwa tidak ada yang namanya kebenaran absolut. Sebagian besar orang AS saat ini percaya bahwa orang dapat membantah kebenaran dan tetap merasa betul[11]. Jika kita memerhatikan jumlah orang AS yang menyatakan diri sebagai orang Injili, tampak jelas bahwa pasti ada satu atau dua orang yang menolak kebenaran absolut, dan logikanya, ia menolak pernyataan Yesus yang mengaku diri sebagai Kebenaran yang absolut itu.
Dalam kerinduan mereka untuk membuat Alkitab bermakna bagi setiap individu, dan untuk menemukan aplikasi hidup yang langsung dan pribadi, kaum Injili cenderung mengabaikan konteks sejarah, kebudayaan, dan kesusastraan dari perikop atau pasal atau kitab dari Alkitab. "Pada saat kita memercayai bahwa firman Allah berbicara kepada kita secara langsung, maka kita mengabaikan bahwa firman Tuhan berbicara tentang kebutuhan kita MELALUI konteks historis dan konteks tulisan dari penulis-penulis Alkitab," ujar Walt Russel[12]. Thomas Olden, seorang teolog, telah menggemakan pandangan ini dan mengamati bahwa beberapa orang-orang Injili "telah terpaku pada 'aku dan Alkitab, dan terutama aku,' sehingga pembacaan Alkitab terutama hanyalah untuk keinginan dari perasaan dalam diri"[13].
Jadi, bagaimana seharusnya kita mempelajari Alkitab? Pertama, kita perlu mempelajari Alkitab untuk kepentingan Alkitab itu sendiri, bukan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang kita rasakan. Kita perlu bertanya, "Apa yang Alkitab katakan?" bukan, "Apa yang Alkitab katakan kepadaku?" Jika saya mempelajari Alkitab untuk mencari bukti bahwa Allah menginginkan saya bahagia, atau sukses, atau puas, yakinlah bahwa saya akan menemukannya, karena pola pikir saya akan menentukan interpretasi saya terhadap Alkitab. Ketika saya membaca Alkitab dengan kebutuhan-kebutuhan yang saya rasakan dalam pikiran saya, saya berarti telah melucuti Alkitab dari segala kebenaran obyektifnya. Yang tersisa hanyalah relativisme cair yang berubah sesuai dengan keadaan, temperamen, dan kebutuhan-kebutuhan saya. Membaca Alkitab secara subyektif, akan meninggikan konteks saya di atas konteks Alkitab. Perspektif ini, tegas Russel, berbahaya karena "perspektif ini memberikan praduga pada cara pandang eksistensialis dan yang berfokus pada manusia"[14].
Akan tetapi, inilah praduga yang mendasari pemikiran pengembangan diri, keyakinan bahwa saya ada untuk diri saya sendiri, dan kalau Allah ada, maka Dia ada untuk membantu saya melihat diri saya dengan lebih jelas dan dengan pandangan yang lebih positif. Tepatnya, inilah anggapan yang didukung Robert Schuller ketika dia menekankan bahwa kita memerlukan teologi yang berpusat pada manusia. Ini adalah cara pandangan dunia yang merendahkan Allah menjadi Penolong supranatural dari keinginan eksistensial kita dan Injil menjadi resep bagi kemajuan dan pencerahan serta pemenuhan kebutuhan pribadi kita. Dalam konteks pengembangan diri, Alkitab tidak dipercaya sebagai pewahyuan Allah akan diri-Nya kepada kita. Alkitab ada untuk membantu kita mengerti diri kita sendiri.
Bahkan pedalaman Alkitab yang berfokus pada pemuridan dapat berubah menjadi kegiatan yang hanya sekadar melayani diri sendiri dan berpusat pada diri sendiri. Sebagai orang Kristen, kita perlu membaca Alkitab apa adanya, bukan untuk mencari sesuatu yang dapat dilakukan Alkitab untuk kita. Kita mempelajari Alkitab karena itu adalah firman Allah, karena firman Allah berasal dari Yang Esa, objek dari kerinduan terbesar kita, keinginan kita yang terkuat.
Saya teringat kasih yang tampaknya membanjiri saya ketika masing- masing anak saya lahir. Ketika mereka bertumbuh, saya akan menghabiskan waktu berjam-jam untuk melihat mereka, mempelajari setiap gerakan mereka, mempelajari sifat kepribadian mereka yang mulai terbentuk, perubahan pola pikir mereka yang menonjol, dan ekspresi pemikiran mereka yang khas. Saya ingin mengenal anak-anak saya, bukan karena apa yang bisa mereka berikan kepada saya, bahkan bukan karena saya ingin menjadi ibu yang lebih baik, tetapi benar-benar hanya karena saya mencintai mereka.
Kasih kita kepada Allah harus jauh lebih besar lagi. Keinginan kita kepada-Nya harusnya menjadi hasrat yang membara bahwa kita ingin tahu segala sesuatu yang bisa kita ketahui tentang Dia. Betul, kita mempelajari Alkitab untuk belajar tentang pemuridan, tetapi belajar seperti itu tak ubahnya seperti tulang-tulang yang kering jika dibandingkan dengan mempelajari dengan penuh hasrat Kekasih kita, karena kita mencintai-Nya dan kita rindu berada di dekat-Nya.
Jadi, dalam pemahaman Alkitab, tujuan kita adalah sebisa mungkin menjauhkan keinginan diri kita. Kita perlu ingat bahwa Firman Allah adalah kebenaran, bahwa Allah ingin mengungkapkan Diri-Nya kepada kita, dan bahwa semua kitab memunyai arti sesuai dengan yang Penulis inginkan. Untuk menemukan kebenaran itu, untuk mengerti pewahyuan Allah itu, kita perlu mempelajari Alkitab secara obyektif, termasuk di dalamnya penelusuran dan penelitian eksegese ke dalam konteks kebudayaan, sejarah, dan kesusastraan Alkitab. Saat kita mendekati setiap kitab dalam Alkitab, kita perlu tahu sebisa mungkin segala hal tentang sang penulis kitab yang diberi inspirasi oleh Allah -- kehidupannya, jamannya, tujuannya menulis kitab tersebut, dan pembacanya. Kita perlu mengetahui apakah buku itu adalah buku nubuatan, sejarah, atau syair. Kita perlu mengerti bagaimana buku tersebut disatukan dan apa tema-tema besarnya.
Karena kita tidak memunyai naskah asli Kitab Suci (dan kalau adapun hanya sebagian kecil orang yang bisa membacanya), maka kita membaca Alkitab hanya dari terjemahannya. Terjemahan yang Anda pilih mungkin tergantung dari selera dan latar belakang pribadi Anda. Ingatlah bahwa terjemahan-terjemahan Alkitab memunyai kelebihan dan kekurangan mereka masing-masing. Kadang kita mendapatkan pemahaman baru dengan membaca terjemahan yang lain. Dalam hal ini ingatlah: "Masalah-masalah yang muncul sebenarnya bukanlah disebabkan karena orang-orang membaca Alkitab dengan terjemahan yang berbeda-beda; masalah yang paling serius adalah karena banyak orang tidak membaca Alkitab!"[15]
Terjemahan apa pun yang Anda pilih akan membantu Anda "mempelajari" versi terjemahan tersebut. Pendalaman Alkitab biasanya termasuk informasi tentang latar belakang penulis seperti yang digambarkan di atas. Anda juga perlu memunyai konkordansi yang lengkap, yang akan menolong Anda melakukan eksegese yang mendalam, dan Anda perlu tafsiran Alkitab sebanyak mungkin, milik Anda sendiri atau pinjaman dari perpustakaan, teman, atau pendeta.
Sekilas tentang tafsiran. Sepanjang sejarah, kaum Injili telah menunjukkan bias melawan otoritas. Karena gerakan Injili berakar pada masyarakat yang demokratis, maka mereka sering menekankan kemampuan setiap orang dalam menafsirkan Alkitab. Walaupun pedalaman Alkitab secara mandiri dapat memberikan keuntungan, saya yakin membaca karya pakar-pakar Alkitab yang telah mendedikasikan hidup mereka untuk mempelajari teks tertua yang ada akan lebih menjelaskan makna dan kebenaran Alkitab. Allah telah memanggil para pakar Alkitab untuk tugas mulia ini, dan saya percaya mengabaikan pekerjaan mereka adalah perbuatan konyol yang membuang-buang waktu.
2. Mempelajari Sejarah Gereja
Thomas Oden mengamati bahwa fokus kaum Injili yang luar biasa besar pada pengalaman pribadi dalam pedalaman Alkitab "telah menghambat pembaca untuk belajar bahwa Roh memunyai sejarah, dan bahwa tubuh Kristus yang dipanggil dari dalam sejarah itu memunyai satu kesatuan...." Berhati-hatilah terhadap 'orang-orang Injili' yang ingin membaca Alkitab tanpa suara dari sejarah gereja, dan hanya mau mendengar suaranya sendiri atau suara-suara kontemporer saja. Orang- orang Injili sering menjadi pecundang ketika mereka secara sistematis mengabaikan orang-orang suci dan para martir serta penulis-penulis konsensus dari abad-abad awal kekristenan"[16]. Yang Oden katakan adalah orang-orang Injili perlu mempelajari sejarah gereja dan karya penulis-penulis besar Kristen, para teolog, dan para ahli yang karyanya dapat memberitahu kita, paling sedikit, atau mungkin banyak, tentang kebenaran dan makna Alkitab sebanyak atau lebih dari para penafsir modern.
Banyak kaum Injili mendekati kekristenan dengan pikiran seolah-olah hanya gerakan Injili modern yang memiliki doktrin yang benar dan kesetiaan sejati terhadap Kristus. Ada kecurigaan dari kaum Injili terhadap Roma Katolik dan bahkan denominasi Protestan, bahwa mereka sulit menemukan kekristenan yang nyata di antara mereka. Sayangnya, sikap ini menyebabkan mereka mengabaikan sejarah gereja, gerakan- gerakannya yang penting dan pemimpin-pemimpinnya yang hebat.
Jika kita tidak belajar dari masa lalu, maka kita bisa dipastikan akan mengulangi kesalahan yang sama. Gnostisisme, contohnya, telah mengancam kekristenan sejak awal masa perkembangannya. Jika kita tidak mempelajari masa lalu, maka kita tidak akan menyadari bahwa manifestasi-manifestasi kontemporer dari musuh lama ini, muncul lagi dalam buku-buku pengembangan diri. Dan Pelagianisme -- kepercayaan bahwa manusia pada hakikatnya adalah baik dan bahwa seseorang dapat menyempurnakan diri mereka sendiri dengan kekuatan mereka -- mengajarkan filsafat yang sama dengan yang sedang diajarkan oleh gerakan pengembangan diri. Ketika kita tidak mengerti masa lalu, kita akan kesulitan mengenali musuh lama kita yang muncul dalam bentuknya yang baru.
Kalau kita gagal mempelajari sejarah gereja, maka kita akan terpaksa mengulanginya lagi -- memikirkan ulang doktrin kekristenan, dan mendefinisikan ulang ajaran-ajaran ortodoks. Kita gagal menyadari bahwa kebenaran kekristenan adalah kebenaran yang tidak lekang oleh waktu. Kebenaran itu sama, kemarin, hari ini, hingga selamanya. Dengan mempelajari sejarah gereja, kita mengakui kualitas kebenaran Kekristenan yang tidak dibatasi oleh waktu, dan kita memasukkan pemahaman kita dengan unsur yang melampaui pemikiran kita yang dibatasi oleh waktu, pemikiran picik akhir abad keduapuluh yang menekankan bahwa "lebih baru lebih baik".
Lebih jauh lagi, hanya dengan mempelajari masa lalu, kita dapat menangkap sepintas hakikat gereja yang nyata dan abadi. Berada di dalam waktu, kita hanya bisa melihat bayangan kecil gereja. Berada di luar waktu, Allah bisa melihat gereja sepanjang sejarah dari masa para rasul mula-mula sampai masa depan ketika gereja disatukan dengan Kristus. Inilah gereja yang Allah pakai yang di dalamnya kita turut ambil bagian. Kita tidak sendirian karena gereja pada saat ini sedang berada dalam sungai waktu. Kita terhubung dengan saudara-saudara kita dari segala masa, dan untuk segala masa, dalam pemujaan kekaguman kepada Allah yang terus menerus dan komitmen kepada Kristus yang memberikan gereja kekuatan. Dengan mempelajari masa lalu kita, kita dapat mengumpulkan kekuatan untuk melindungi kepercayaan kita dari kesalahan besar pengembangan diri yang berpusat pada diri yang meyakinkan kita untuk menciptakan ulang gereja yang dapat memuaskan kebutuhan modern. Kebutuhan kita bukanlah kebutuhan modern. Kebutuhan itu adalah kebutuhan setiap orang Kristen sepanjang masa. Kebutuhan itu adalah kebutuhan untuk mengenal Allah, untuk diselamatkan oleh anugerah-Nya dan tinggal bersama-Nya dan untuk-Nya selamanya.
Dengan cara yang sama, mempelajari kehidupan pemimpin-pemimpin gereja menunjukkan kepada kita siapa pahlawan-pahlawan yang nyata, bukannya seperti pahlawan-pahlawan sekuler pengembangan diri. Tidak ada Tony Robbins atau Stephen Covey di sini, tetapi pria dan wanita yang hidup menjalankan pengajaran Alkitab dengan menyerahkan diri mereka sendiri sebagai pelayanan kasih kepada Yesus Kristus, kepada Gereja yang kudus, dan kepada satu sama lain. Dan karya-karya agung dari tokoh- tokoh besar Kristen ini memberikan pencerahan terhadap Alkitab dengan pemahaman dan penerimaan kebenaran yang tidak mungkin kita abaikan.
Sebagai contoh, percaya pada keabsahan total Alkitab bukanlah pandangan teologia modern, sebagaimana banyak kaum Injili percayai. Baik Gregorius dari Nyssa maupun Santo Agustinus menegaskan bahwa Alkitab berbicara bersama suara Allah. Timothy George, dekan Beeson Divinity School, menggarisbawahi pentingnya kita kembali kepada karya Bapa-Bapa Gereja, dan mengatakan bahwa "konsensus besar-besaran sepanjang zaman tentang interpretasi pemikiran Kristen pada Alkitab (dan pada hal-hal paling penting lainnya) tidak mungkin salah"[17].
Catatan kaki:
  1. 2 Timotius 3:16-17.
  2. Matius 22:29-33.
  3. Dikutip di Karen R.Long, "Bible Knowledge at Record Low, Pollster Says," National Catholic Reporter, 15 Juli 1994, p.9.
  4. Thomas Ehrlich, "The Bible: Our Heritage," The Saturday Evening Post, Mei/Juni 1991, p.66.
  5. Earl D. Wilson, The Discovered Self: The Search for Self-Acceptance (Downers Grove, Illinois: InterVarsity Press, 1985), p.9.
  6. Mike Murdock, One-Minute Businessman's Devotional (Tulsa, Oklahoma: Honor Books, 1992).
  7. Robert J. Wicks, Touching the Holy: Ordinariness, Self-Esteem, and Friendship (Notre Dame, Indiana: Ave Maria Press, 1992), p.9.
  8. Dikutip di G. Walter Hansen, "Words from God's Heart," Christianity Today, 23 Oktober 1995, p.23.
  9. Ibid., p.25.
  10. Walt Rusell, "What It Means to Me," Christianity Today, 26 Oktober 1992, pp.30-31 [penekanan di "interpretive relativism" oleh saya].
  11. Ibid., p.30.
  12. Ibid., p.31 [penekanan oleh penulis asli].
  13. Dikutip di "Classic and Contemporary Excerpts," Christianity Today, 25 Oktober 1993, p.73.
  14. Walt Russell, "What It Means to Me," p.32.
  15. Jack P. Lewis, The English Bible from KJV to NIV: A History and Evaluation (Grand Rapids, Michigan: Baker Book House, 1981), p.366.
  16. Dikutip di Christianity Today, 25 Oktober 1993, p.73.
  17. Timothy George, "What We Mean When We Say It's True," Christianity Today, 23 Oktober 1995, p.19.

Read more...

Pengembangan diri

Kata Kunci: pengembangan diri, prestasi belajar.
Pendidikan merupakan hal penting dalam kemajuan suatu negara dan individu, sudah hampir dipastikan bahwa semakin maju seseorang maka ia akan membutuhkan pendidikan.Di era yang maju seperti sekarang ini dibutuhkan keterampilan yang benar-benar dapat menunjang suatu jenis pekerjaan. Tidak hanya pendidikan akademik saja tetapi pendidikan non-akademik juga diperlukan, sehingga pada saat peserta didik lulus telah memiliki keterampilan atau setidaknya pengetahuan bermasyarakat. Pendidikan non-akademik yang dimaksud adalah melalui kegiatan Pengembangan diri.
Dalam pendidikan umum dijelaskan bahwa pengembangan diri bertujuan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan, bakat, dan minat setiap peserta didik sesuai dengan kondisi sekolah. Kegiatan pengembangn diri difasilitasi dan atau dibimbing oleh konselor, guru, atau tenaga kependidikan yang dapat dilakukan dalam bentuk kegiatan ekstrakurikuler.
Banyak faktor yang mempengaruhi prestasi belajar yaitu faktor intern adalah faktor dari dalam anak yaitu secara umum dan keseluruhan yang ada pada anak atau bersumber dari dalam diri subjek belajar, sedangkan disini faktor ekstern yaitu keaktifan dalam kegiatan pengembangan diri yang dianggap mempengaruhi prestasi belajar siswa.
Untuk itu penelitian ini merumuskan masalah sebagai berikut.(1) Bagaimana tingkat keaktifan siswa kelas XII jurusan IPS di SMA Negeri 10 Malang dalam mengikuti kegiatan pengembangan diri paskibra?;(2) Bagaimana prestasi belajar mata pelajaran sejarah siswa kelas XII jurusan IPS yang mengikuti kegiatan pengembangan diri paskibra di SMA Negeri 10 Malang?;(3) Bagaimana pengaruh
aktivitas pengembangan diri paskibra terhadap prestasi belajar mata pelajaran sejarah siswa kelas XII jurusan IPS SMA Negeri 10 Malang?
Penelitian ini dilakukan di SMA Negeri 10 Malang. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan deskriptif korelasional. Populasi dam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XII jurusan IPS yang mengikuti kegiatan pengembangan diri paskibra. Sampel penelitian ini diambil melalui purposive sampling. Teknik pengumpulan data dengan menggunakan angket dan dokumentasi, penelitian ini menggunakan analisis deskriptif untuk menggambarkan tentang kondisi keaktifan kegiatan pengembangan diri dan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran sejarah.

Read more...

Pengembangan diri

Seorang ayah memenuhi janjinya untuk mengajak anaknya pergi memancing. Dengan bersusah hati diantara schedulenya yang padat, si ayah berusaha mengambil cuti. Dan akhirnya, berangkatlah ia dengan anaknya, untuk pergi memancing. Seharian mereka memancing, tetapi tidak mendapatkan seekor ikanpun. Dengan marah-marah, akhirnya sampai sore, mereka pun pulang. Puluhan tahun berlalu, ternyata pengalaman ini dicatat oleh mereka masing-masing dalam diary harian mereka. Ketika dibaca ulang, diary si ayah bunyinya begini, “Kurang ajar. Hari yang sial! Saya sudah cuti seharian untuk memancing, ternyata tidak mendapatkan seekorpun. Sebel banget!” Sementara itu, diary anaknya pun dibuka, ternyata kalimatnya, “Terima kasih Tuhan. Hari yang luar biasa. Saya pergi memancing bersama ayah. Meskipun tidak mendapatkan seekor ikanpun, tetapi saya punya kesempatan ngobrol-ngobrol banyak dengan ayah. Sangat menyenangkan!”
Pembaca, betapa berbedanya sudut pandang si ayah dengan si anaknya. Bagi si ayah, yang terpenting adalah mendapatkan ikan-ikan, sementara bagi si anak, justru pengalaman memancing bersama itulah yang menyenangkan. Itulah orang-orang yang seringkali saya bicarakan di dalam seminar dan training saya, satunya lebih menghargai ‘milestones’ sementara lainnya, lebih menghargai ‘moments’.
Kejadian ini sebenarnya mengingatkan saya dengan pengalaman bertemu dengan seorang General Manager sebuah perusahaan ritel, dimana ia sangat sukses dan berhasil tetapi dalam konselingnya dengan saya, mukanya tampak letih. Singkatnya, ia mengatakan, “Aku capek, sangat keletihan. Hidupku rasanya bergerak dari satu target ke target lainnya”. Tidaklah mengherankan bagi saya kalau si GM ini keletihan hidupnya. Yang muncul adalah perasaan kasihan saya karena hidupnya hanyalah kumpulan dari gol satu ke gol lainnya. Bahkan, dengan keluarganya pun ia hampir tidak mempunyai waktu. Bahkan, untuk jalan-jalan dengan keluarganya saja, ia harus menjadwalkan, seakan-akan menset target apa yang harus dicapai dalam piknik keluarganya, dll. Sungguh meletihkan sekali melihat hidupnya!
Pelari Marathon atau Pendaki Gunung?
Metafora ini saya gunakan hanya untuk menggambarkan dua jenis orang di dalam menikmati hidupnya. Yang pertama, saya umpamakan seperti seorang pelari marathon. Saya ingat, saya pernah mengikuti beberapa kali lomba marathon, dan itu sangat menyenangkan. Masalahnya, saat mengikuti merathon, saya berlari dengan serius. Terfokus pada satu titik ke titik yang lain, hingga selesai . Bahkan, penonton yang di tepi jalanpun saya cuekin. Saya hanya terfokus untuk berlari dan akhirnya bisa sampai ke garis finish (ngomong-ngomong, ini mungkin tidak mewakili semua pelari marathon karena toh ada rekan saya yang bisa sangat menikmatinya). Singkat cerita, inilah tipe yang saya anggap mewakili orang yang hidupnya hanya dari satu ‘milestones’ (tahapan) ke ‘milestone’ yang lainnya.
Bandingkanlah gaya pelari marathon ini dengan gaya seorang pendaki gunung. Saya ingat, saya pun pernah punya berkesempatan mendaki gunung. Sungguh pengalaman yang agak berbeda dengan pengalaman jadi pelari marathon. Dalam mendaki gunung, kami memang punya tujuan yang harus dicapai, yakni puncaknya. Tetapi, sepanjang perjalanan, kami bisa bernyanyi-nyanyi, saling bercerita bahkan sesekali berhenti sejenak jika ada sesuatu yang menarik untuk dinikmati. Sungguh menyenangkan berkesempatan menikmati satu demi satu tempat yang kami lalui. Dan inilah metafora yang saya anggap mewakili orang yang hidupnya bisa bergerak dari ‘moment’ ke ‘moment’.
Nah, dengan kedua metafora tersebut, saya ingin mengajak Anda untuk merefleksikan bagaimanakah kecenderungan sikap Anda dalam menghadapi hidup ini, dalam menyikapi pekerjaan Anda, dalam menyikapi proses perkembangan anak Anda? Terlalu banyak karyawan, pimpinan maupun orang tua yang menyikapi pekerjaan dan keluarganya seperti ‘milestones’. Memang sih, pada akhirnya banyak yang bisa mereka raih, tetapi sekaligus, mereka juga banyak kehilangan sisi menyenangkan (fun) dalam hidup ini. Bayangkanlah seorang manager yang stres dan mulai kebosanan karena hidupnya hanya dari satu KPI (Key Performance Indicator) ke KPI lain, satu scorecard ke scorecard yang lain. Ataupun, bayangkan seorang tua yang melihat anaknya seperti sesuatu target yang bergerak. Akan sangat meletihkan.
Sebaliknya, bagi saya, kita bisa tetap sambil menikmati ‘moment’ sambil berusaha menggerakkan diri kita mencapai yang lebih baik. Kita bisa mencapai ‘gunung impian’ kita tanpa kehilangan kesempatan untuk berhenti, menikmati indahnya pemandangan dan bercanda ria. Jadi, mulai sekarang perlakukan hidup kita sebagai ‘moment’ bukan sebagai ‘milestone’ sehingga pada akhir ajal menjelang kita, akan ada banyak hal moment indah yang bisa dikenang! Salam Antusias selalu!

Read more...

Pengembangan diri

Pengembangan diri
Pengembangan diri diarahkan untuk pengembangan karakter peserta didik yang ditujukan untuk mengatasi persoalan dirinya, persoalan masyarakat di lingkungan sekitarnya, dan persoalan kebangsaan.
Sekolah memfasilitasi kegiatan pengembangan diri seperti berikut ini.
a.    pengembangan diri yang dilaksanakan sebagian besar di dalam kelas (intrakurikuler) dengan alokasi waktu 2 jam tatap muka, yaitu:
1)    Bimbingan Konseling, mencakup hal-hal yang berkenaan dengan pribadi, kemasyarakatan, belajar, dan karier peserta didik.Bimbingan Konseling diasuh oleh guru yang ditugaskan. 
2)    pengembangan diri yang dilaksanakan sebagian besar di luar kelas (ekstrakurikuler)  diasuh oleh guru pembina. Pelaksanaannya secara reguler setiap hari Sabtu,  yaitu:
§  Olahraga ( bola Volley, footsal, Takraw, bola basket )
§  Pramuka
§  Palang Merah Remaja (PMR)
§  Kelompok Ilmiah Remaja (KIR)
§  Kelompok Giat Belajar Bahasa Inggris,MIPA,IPS,Keagamaan, Seni
 
b.   Program Pembiasaan  mencakup kegiatan yang bersifat pembinaan karakter peserta didik  yang dilakukan secara rutin, spontan, dan keteladanan.

RUTIN
SPONTAN
KETELADANAN
Upacara
membiasakan antri
berpakaian rapi
Senam
memberi salam
memberikan pujian
sholat berjamaah
membuang sampah pada tempatnya
tepat waktu
kunjungan pustaka
musyawarah
hidup sederhana
Pembiasaan ini dilaksanakan sepanjang waktu belajar di sekolah. Seluruh guru ditugaskan untuk membina Program Pembiasaan yang telah ditetapkan oleh sekolah.
Penilaian kegiatan pengembangan diri  bersifat kualitatif. Potensi, ekspresi, perilaku, dan kondisi psikologis peserta didik merupakan portofolio yang digunakan untuk penilaian

Read more...

Pengembangan diri

Pengembangan diri
Pengembangan diri diarahkan untuk pengembangan karakter peserta didik yang ditujukan untuk mengatasi persoalan dirinya, persoalan masyarakat di lingkungan sekitarnya, dan persoalan kebangsaan.
Sekolah memfasilitasi kegiatan pengembangan diri seperti berikut ini.
a.    pengembangan diri yang dilaksanakan sebagian besar di dalam kelas (intrakurikuler) dengan alokasi waktu 2 jam tatap muka, yaitu:
1)    Bimbingan Konseling, mencakup hal-hal yang berkenaan dengan pribadi, kemasyarakatan, belajar, dan karier peserta didik.Bimbingan Konseling diasuh oleh guru yang ditugaskan. 
2)    pengembangan diri yang dilaksanakan sebagian besar di luar kelas (ekstrakurikuler)  diasuh oleh guru pembina. Pelaksanaannya secara reguler setiap hari Sabtu,  yaitu:
§  Olahraga ( bola Volley, footsal, Takraw, bola basket )
§  Pramuka
§  Palang Merah Remaja (PMR)
§  Kelompok Ilmiah Remaja (KIR)
§  Kelompok Giat Belajar Bahasa Inggris,MIPA,IPS,Keagamaan, Seni
 
b.   Program Pembiasaan  mencakup kegiatan yang bersifat pembinaan karakter peserta didik  yang dilakukan secara rutin, spontan, dan keteladanan.

RUTIN
SPONTAN
KETELADANAN
Upacara
membiasakan antri
berpakaian rapi
Senam
memberi salam
memberikan pujian
sholat berjamaah
membuang sampah pada tempatnya
tepat waktu
kunjungan pustaka
musyawarah
hidup sederhana
Pembiasaan ini dilaksanakan sepanjang waktu belajar di sekolah. Seluruh guru ditugaskan untuk membina Program Pembiasaan yang telah ditetapkan oleh sekolah.
Penilaian kegiatan pengembangan diri  bersifat kualitatif. Potensi, ekspresi, perilaku, dan kondisi psikologis peserta didik merupakan portofolio yang digunakan untuk penilaian

Read more...

Pengembangan diri

Membangun Sikap Positif Dan Percaya Diri Sebagai Pengembangan Diri Karyawan
   Oleh : Melva Emsy Simalango



Minggu, 10 Juli 2011 07.10 WIB

 

(Vibizmanagement – HR) - Dalam kesempatan ini penulis ingin membagikan 2 hal penting untuk mengembangkan diri sebagai bagian dari team kesuksesan perusahaan anda yaitu:
1.    Sikap Positif
2.    Percaya diri

Sikap adalah suatu keadaan pikiran yang dipengaruhi oleh kecenderungan perasaan, pikiran  dan tindakan.  temukanlah kecendurungan pikiran anda, apakah cenderung positif atau negatif? Jika anda menginginkan pola pikiran anda positif maka bentuklah itu ke arah positif secara terus menerus.  Mungkin awalnya akan terasa dipakasakan.  Bagaimana mungkin keadaan dukacita/kesialan/kegagalan BISA diubah menjadi kebahagiaan di pikiran kita? kita seperti dipaksa berpikir mencari hal yang positif dari kenyataan yang paling negatif sekalipun.  Ya memang kita HARUS mencarinya untuk melatih pikiran kita dan membangun pondasi kuat untuk berpikir positif dalam segala keadaan. bukankankah sesuatu yang telah terjadi tidak dapat kita ubah? tapi apa yang belum terjadi dapat kita raih?  Karena itu bangunlah sikap positif untuk membangun diri demi kesuksesan di depan.

Hal kedua adalah percaya diri. Beberapa prinsip untuk membangun rasa percaya diri:
1.    Menerima diri sendiri -> Terima apa adanya kelebihan dan kekurangan anda
2.    Menghormati diri sendiri -> Hormati bahwa anda adalah makhluk sempura
3.    Menghargai diri sendiri -> Hargailah bahwa banyak kelebihan anda yang mungkin tidak dimiliki orang lain
4.    Memotivasi diri-> Sering-seringlah membangkitkan semangat anda sendiri unutk memberi lebih
5.    Mengembangkan diri -> Jangan berhenti belajar. Kuasai bidang anda dan kenali bidang karyawan Kembangkan terus kemampuan anda selagi masih ada kesempatan.

Sebagai HR praktisi, anda memiliki peran cukup banyak dan penting untuk membangun kedua hal ini pada setiap karyawan dalam perusahaan. Ingat bahwa jika karyawan saling berpacu untuk membangun kemampuan diri maka perusahaan juga yang pada akhirnya merasakan manfaatnya. HR adalah pemicu yang dapat menciptakan semangat untuk maju dan berkembang pada setiap karyawannya namun sebaliknya HR dapat pula justru menjadi peredam semangat itu jika HR praktisi hanya fokus pada pekerjaan administrasinya saja dan mengeleminasi pemikiran untuk membuat strategi demi kemajuan perusahaaan dan karyawan yang adalah aset penting perusahaan.

Beberapa cara untuk memicu semangat  mengembangkan diri pada karyawan:
1.    Buatlah proyek/program yang melibatkan karyawan dalam pembuatan dan penyelesaiannya
2.    Berikan kesempatan pada karyawan yang dinilai potensi untuk menjadi Pimpinan Project dengan pengawasan dan bimbingan dari Manajemen di awalnya.
3.    Reward & punishment juga dilakukan dengan lebih mengedepankan reward dan meringankan punishment.
4.    Prioritaskan promosi dari dalam jika ada peluang.
5.    Lakukan pendekatan (coaching) secara berkala dan kemukakan apa yang masih dapat dikembangkan lagi dan apa yang harus diubah.

Jika hal ini secara kontinu dilakukan maka pengembangan karyawan dan kemajuan perusahaan benar-benar didepan mata.
Salam sukses

Read more...

Pengembangan diri

Pengembangan diri adalah sebuah topik yang dapat diibaratkan seperti sebuah sumur tanpa dasar. Hal tersebut menunjukkan bahwa pengembangan diri adalah tema yang sangat luas, dalam dan banyak sekali alternatif bahasannya. Misalnya, kita dapat mulai dari sebuah analogi yang umum, seperti pernyataan berikut ini; “Saya sudah sering sekali membaca buku pengembangan diri, tapi kok belum sukses juga? Mengapa saya masih seperti dulu? Belum ada perubahan?”. Pertanyaan dimuka, tentu saja sangat menggelitik, dan berpotensi besar akan diikuti oleh berbagai pertanyaan lain seperti;

-       Mengapa seseorang perlu mengembangkan diri?
-       Apakah seseorang wajib membaca buku pengembangan diri?
-       Benarkah seseorang yang ingin sukses, terlebih dahulu harus membaca buku pengembangan diri?
-       Apakah ada jaminan bahwa setelah membaca buku pengembangan diri, seseorang pasti sukses?
-       Jika ternyata bukan karena buku pengembangan diri, lalu hal apakah yang membuat seseorang sukses dalam hidupnya?
Saya yakin masih banyak pertanyaan lain yang mengikuti pertanyaan pembuka dimuka. Namun, tulisan kali ini (pada awalnya) akan berusaha menjawab satu pertanyaan saja yaitu; mengapa seseorang perlu mengembangkan diri. Untuk pertanyaan pertama ini, rasanya terdapat banyak sekali alternatif jawaban, tergantung pada pola pemikiran, latar belakang maupun tingkat kepentingan masing-masing individu. Namun menurut hemat saya, paling tidak ada dua alasan dasar mengapa seseroang perlu mengembangkan diri:
1.    Karena tuntutan pekerjaan (hidup) semakin tinggi
Anda perlu hidup bukan? Dan syarat untuk hidup adalah bekerja dan mendapatkan uang (walaupun terdengar klise tapi beginilah kenyataannya dilapangan). Dan secara garis besar, pemenuhan kebutuhan hidup tersebut, dapat dicapai dengan dua cara; yaitu bekerja dengan orang lain (melamar pekerjaan, untuk kemudian digaji oleh pihak kedua) atau bekerja sendiri (wirausaha). Mari kita coba membahas dua hal tersebut, dimulai dengan mencari pekerjaan.
Jika diperhatikan, persyaratan untuk mendapatkan pekerjaan yang mumpuni dan memiliki jenjang karir yang baik, saat ini semakin banyak. Dahulu, orang yang tidak bisa berbahasa Inggris masih dimungkinkan untuk meniti karir di perusahaan besar, namun saat ini sudah hampir mustahil, karena kemahiran berbahasa Inggris sudah hampir menjadi syarat wajib bagi calon pelamar. Dahulu, orang dapat melenggang ke perusahaan multinasional tanpa kemampuan dan keterampilan komputer, namun saat ini, hampir tidak mungkin hal itu terjadi. Hal ini menunjukkan bahwa era globalisasi sudah semakin menuntut perusahaan untuk melakukan kompetisi dengan ketat. Masing-masing perusahaan berlomba untuk merekrut SDM yang terbaik. Hal ini sangat beralasan, karena disaat efisiensi dan efektivitas menjadi concern perusahaan, memiliki SDM yang tidak unggul (tidak memiliki kompetensi sesuai tuntutan pekerjaan) adalah sebuah pemborosan. Artinya, demi menciptakan sebuah perusahaan yang ramping dan gesit, diperlukan sedikit saja SDM, namun yang benar-benar memiliki kemampuan maksimal.
Selanjutnya, bagaimana dengan wirausaha, toh tidak semua orang harus menjadi karyawan? Sama saja. Artinya, jika pelamar pekerjaan dituntut memiliki kompetensi yang prima (sesuai dengan tuntutan pekerjaan), maka saat ini seorang wirausaha, atau ketika Anda berniat untuk membuka dan mengembangkan sebuah usaha, maka tuntutan performance dan kualitas usaha Anda juga semakin tinggi. Mengapa? Karena saat ini sudah sangat banyak usaha-usaha wirausaha yang bermunculan dan berkembang di sekitar kita, mulai dari skala kecil sampai skala nasional. Sehingga, untuk dapat bersaing dengan mereka, diperlukan usaha yang ektra keras, daya cipta yang kreatif serta inovatif, dan tak ketinggalan, diperlukan suntikan serum ketekunan yang tinggi. Mungkin Anda akan bertanya; apakah sedemikian beratnya? Tidak juga sebenarnya, namun kita perlu sadari bersama bahwa jika kualitas dan performance yang kita tawarkan ‘biasa-biasa saja’, maka kecil kemungkinan pasar akan melirik Anda. Dan sebaliknya, besar kemungkinan pasar akan melirik yang lain. Karena pasar saat ini menjadi semakin terdidik, dan selektif. Sehingga dapat dibuat kesimpulan bahwa, untuk menjadi karyawan ataupun wirausaha, tidak bisa tidak, semua pihak akan terkena tuntutan kinerja dan kualitas yang semakin tinggi. Artinya, dibutuhkan pengembangan diri untuk mencapainya
2.    Karena yang lain juga sedang mengembangkan diri
Satu ungkapan ekstrim mengenai hal ini adalah; “jika Anda adalah satu-satunya lulusan fakultas ekonomi di Indonesia, walaupun Anda tidak pernah belajar ataupun nilai Anda sangat jelek sekalipun, Anda tetap akan dicari (untuk kemudian direkrut) oleh perusahaan. Mengapa? Karena Anda adalah lulusan satu-satunya di bidang ekonomi, yang notabene memang dibutuhkan perusahaan. Namun, apakah seperti itu yang terjadi? Coba perhatikan lingkungan sekitar Anda. Ada berapa Fakultas Ekonomi di sekitar Anda? Ada berapa akademi komputer atau sekolah tinggi komputer? Ada berapa institusi bahasa asing, psikologi, sastra, tehnik, sekretaris? Banyak sekali. Berapakah lulusannya? Lebih banyak lagi. Maka pertanyaan selanjutnya adalah; mengapa perusahaan harus memilih Anda daripada lulusan-lulusan lain yang ribuan banyaknya tersebut? Sekali lagi, mengapa perusahaan harus memilih Anda? Apakah hal yang begitu spesial yang Anda miliki sehingga perusahaan lebih melirik Anda daripada ribuan lulusan yang lain? What so special?
Sebelum kita mengupas lebih dalam pertanyaan tersebut, marilah kita perhatikan ilustrasi di bawah ini:
Apakah yang sedang orang lain lakukan ketika Anda sedang bersantai, berjalan-jalan di Mal, nonton film, rekreasi ke pegunungan dan berbagai aktivitas pleasure lainnya? Pernahkan Anda berpikir bahwa mungkin mereka sedang mengembangkan dirinya dengan belajar bahasa Inggris, mendalami keterampilan komputer atau meningkatkan kemampuan menganalisis masalah, melakukan public speaking dll. Jika kondisi ini selalu terjadi, dimana ketika Anda sedang bermain dan mereka justru sedang mengembangkan dirinya, maka artinya, mereka akan menang satu poin dari Anda.  Apa artinya menang satu poin? Sederhana, yaitu bahwa mereka satu langkah lebih dekat ke pintu sukses daripada Anda dan siap meninggalkan Anda dibelakang. Pertanyaannya adalah apakah Anda rela membiarkan hal ini terjadi?

Read more...

Pengembangan diri

PENGERTIAN
Pengembangan diri merupakan kegiatan pendidikan di luar mata pelajaran sebagai bagian integrasl dari kurikulum sekolah/madrasah. Kegiatan pengembangan diri merupakan upaya pembentukan watak dan kepribadian peserta didik yang dilakukan melalui kegiatan pelayanan konseling berkenaan dengan masalah pribadi dan kehidupan sosial, kegiatan belajar, dan pengembangan karir, serta kegiatan ekstra kurikuler.
• Pengembangan Diri merupakan kegiatan pendidikan di luar mata pelajaran yang penilaiannya dilakukan secara kualitatif.
• Pelayanan konseling berkenaan masalah diri pribadi dan kehidupan sosial, kegiatan belajar, dan pengembangan karir peserta didik.
• Kegiatan ekstra kurikuler membantu pengembangan peserta didik sesuai kebutuhan, potensi, bakat, minat, serta kondisi diri mereka.
• Untuk pendidikan kejuruan dan khusus pengembangan diri ditujukan untuk pembinaan kreativitas & karir, serta kecakapan hidup

RUANG LINGKUP
Pengembangan diri meliputi dua komponen:
• Pelayanan konseling, meliputi pengembangan:
a. kehidupan pribadi
b. kemampuan sosial
c. kemampuan belajar
d. wawasan dan perencanaan karir
• Ekstra kurikuler, meliputi kegiatan:
a. kepramukaan
b. latihan kepemimpinan, ilmiah remaja, palang merah remaja
c. seni, olahraga, cinta alam
d. keagamaan

BENTUK PELAKSANAAN DAN WAKTU
1.Terprogram
a. Layanan konseling dan kegiatan pendukung
- Waktu untuk klasikal perlu terjadwal, masuk kelas 2 jam/minggu
- Waktu untuk kelompok dan individual tergantung situasi dan kondisi serta permasalahan
b. Kegiatan ekstrakurikuler
- Waktu dan jadwal kegiatan disesuikan dengan kebutuhan, substansi dan kompetensi yang akan dicapai, serta situasi dan kondisi sekolah, naun dihargai ekuivalen 2 jam.
2. Tidak Terprogram
a. Rutin, yakni kegiatan yang sifatnya pembentukan perilaku dan terjadwal
seperti: upacara, ibadah, kebersihan, dsb
b. Spontan, yakni perilaku terpuji dalam kejadian khusus, seperti: memberi
salam, ungkapan terpuji, mengatasi masalah
c. Keteladanan, yakni perilaku yang dapat dijadikan contoh oleh orang lain
sebagai model
PENGERTIAN
Pelayanan konseling di sekolah/madrasah merupakan usaha membantu peserta didik dalam pengembangan kehidupan pribadi, kehidupan sosial, kegiatan belajar, serta perencanaan dan pengembangan karir. Pelayanan konseling memfasilitasi pengembangan peserta didik, secara individual, kelompok dan atau klasikal, sesuai dengan kebutuhan, potensi, bakat, minat, perkembangan, kondisi, serta peluang-peluang yang dimiliki. Pelayanan ini juga membantu mengatasi kelemahan dan hambatan serta masalah yang dihadapi peserta didik.
PRINSIP BIMBINGAN DAN KONSELING
1. Melayani semua individu tanpa pandang umur, jenis kelamin, suku, agama, dan status sosial ekonomi.

2. Memperhatikan aspek perkembangan individu.
3. BK merupakan bagian integral dari upaya pendidikan dan pengembangan individu.
4. Berkelanjutan dari setiap jenjang pendidikan.
5. Keputusan yang diambil individu, atas kemauan individu sendiri.
6. Permasalahan ditangani tenaga ahli yang relevan.
7. Kerjasama dengan fihak lain sangat menentukan hasil pelayanan.
PERBEDAAN INDIVIDUAL
• Kebiasaan
• Pengetahuan
• Kepribadian
• Cita-cita
• Kebutuhan
• Minat
• Pola-pola dan tempo perkembangan
• Ciri-ciri jasmaniah
• Latar belakang lingkungan
ASAS BIMBINGAN DAN KONSELING
• Asas Kerahasiaan
• Asas Kedinamisan
• Asas Keterpaduan
• Asas Kenormatifan
• Asas KeahlianAsas Kesukarelaan
• Asas Keterbukaan
• Asas Kegiatan
• Asas Kekinian
• Asas Kemandirian
• Asas Alih Tangan Kasus
• Asas Tutwuri Handayani
FORMAT KEGIATAN
Individual
b. Kelompok
c. Klasikal
d. Lapangan
e. Pendekatan Khusus
PENENTUAN MATERI
• Tidak ada pengembangan silabus
• Materi ditentukan oleh konselor berdasarkan pengalaman
• Materi dikembangkan berdasarkan jenis layanan yang mencakup empat bidang bimbingan dan konseling
PENGEMBANGAN MATERI BK
- Materi BK sebagai pedoman bagi Guru Pembimbing dalam mengarahkan aktivitas siswa dalam proses pemberian layanan, sekaligus merupakan substansi kompetensi yang seharusnya dimiliki siswa.
• Bahan Tertulis : Hand-out, Buku, Modul, Brosur, Leaflet
• Bahan Tidak Tertulis : Wallchart, Video/Film, Foto/Gambar, Model/Maket, Orang/Nara sumber, Lingkungan alam
JENIS PROGRAM
Program Tahunan

2) Program Semesteran
3) Program Bulanan
4) Program Mingguan
5) Program Harian
bentuk SATLAN dan SATKUNG
DISKUSI
1. Posisi pelayanan konseling dalam pengembangan diri.
2. Istilah pelayanan konseling dalam standar isi (SI).
3. Makna “pengembangan diri ekvifalen 2 jam pelajaran” dalam struktur kurikulum.
4. Berbagai perbedaan pelayanan konseling dalam KTSP dan Kurikulum 2004/KBK.
5. Keterkaitan berbagai jenis kegiatan layanan dengan fungsi dan format layanan bimbingan dan konseling.

Read more...

Pengembangan diri

ANALISIS PELAKSANAAN KEGIATAN PENGEMBANGAN DIRI DALAM BIMBINGAN DAN KONSELING DI SMA NEGERI 12 SEMARANG (Studi Kualitatif pada Pembimbing di SMAN 12 Semarang pada tahun ajaran 2009/ 2010)

YOSI ENIF SENO ACTON , 1301403042 (2010) ANALISIS PELAKSANAAN KEGIATAN PENGEMBANGAN DIRI DALAM BIMBINGAN DAN KONSELING DI SMA NEGERI 12 SEMARANG (Studi Kualitatif pada Pembimbing di SMAN 12 Semarang pada tahun ajaran 2009/ 2010). Under Graduates thesis, Universitas Negeri Semarang.

PDF (ANALISIS PELAKSANAAN KEGIATAN PENGEMBANGAN DIRI DALAM BIMBINGAN DAN KONSELING DI SMA NEGERI 12 SEMARANG (Studi Kualitatif pada Pembimbing di SMAN 12 Semarang pada tahun ajaran 2009/ 2010)) - Published Version
Restricted to Registered users only

Request a copy

Abstract

Pelaksanaan kegiatan pengembangan diri dalam bimbingan dan konseling idealnya dilaksanakan mencakup tiga tahap, yakni tahap perencanaan, tahap pelaksanaan, dan tahap penilaian. Penelitian ini dilatar belakangi fenomena banyaknya argumentasi yang beragam tentang kegiatan pengembangan diri dalam bimbingan dan konseling pada sekolah-sekolah di kota semarang. SMA Negeri 12 Semarang merupakan sekolah menengah atas negeri yang terletak di lingkungan pedesan dan merupakan salah satu sekolah yang terletak di pinggir kota, namun berdekatan dengan universitas negeri semarang. Permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimana pelaksanaan kegiatan pengembangan diri dalam Bimbingan dan Konseling (BK). Tujuan penelitian ini agar diketahui proses perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian kegiatan pengembangan diri dalam BK di SMA Negeri 12 Semarang Tahun Ajaran 2009/ 2010. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Berdasarkan tujuan tersebut, peneliti mengambil sampel yakni seluruh guru pembimbing di SMA Negeri 12 Semarang, yang berjumlah tiga orang. Hasil penelitian menunjukkan, bahwa perencanaan kegiatan Tidak adanya rapat gabungan antara pembimbing, pihak guru mata pelajaran, dan kepala sekolah dalam penyusunan program. Bahkan kebijaksanaan sekolah muncul secara sepihak. Dalam tahap pelaksanaan kegiatan pengembangan diri dalam BK di SMA Negeri 12 Semarang, Pelaksanaan kegiatan tidak sesuai dengan waktu yang direncanakan, tidak adanya jam kelas, dan kurang sinergisnya hubungan kerjasama pembimbing dengan personel sekolah lainnya. Dalam tahap penilaian, meski dirunut dari hasil wawancara menunjukkan skor 100% untuk rata-rata persentase jawaban, akan tetapi kualitas penilaian yang dilaksanakan belum mencapai kualitas yang optimal. Tidak semua siswa dapat teridentifikasi oleh guru pembimbing secara intensif. Hasil penelitian menunjukkan siswa yang teridentifikasi dan mendapatkan bimbingan lebih intensif adalah siswa yang tergolong pintar, dan siswa yang sangat bodoh atau mempunyai banyak masalah. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, peneliti menyarankan : agar pihak sekolah, baik dari pembimbing, wali kelas, guru mata pelajaran, serta kepala sekolah untuk dapat menyelenggarakan kegiatan pengembangan diri dengan lebih baik lagi. Meningkatkan hubungan kerjasama agar lebih sinergis lagi, sehingga diperoleh kebijakan sekolah yang mendukung upaya pengembangan diri siswa sesuai dengan kebutuhan mereka dan sesuai dengan keadaan sekolah dan lingkungan.

Read more...
Diberdayakan oleh Blogger.

Pengikut

Alexa

About This Blog

Lorem Ipsum

  © Free Blogger Templates Wild Birds by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP